Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido kembali menorehkan langkah penting dalam penguatan budaya ilmu melalui peresmian Perpustakaan DUTa Lido dan Digital Library yang diselenggarakan pada Ahad (2/8/2026) di Lapangan Pesantren. Acara yang dihadiri oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, serta para santri ini menjadi momentum bersejarah yang menegaskan bahwa pesantren tidak hanya mencetak para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membangun generasi yang memiliki keluasan ilmu, daya baca, dan tradisi berpikir yang kuat.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan basmalah, dilanjutkan sambutan dari Kepala Departemen Pengajaran dan Pengembangan Kurikulum, Ustadz Khoirul Ibad, Lc., M.Ag., kemudian arahan sekaligus peresmian perpustakaan oleh Direktur Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., serta ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Kepala Departemen Pengajaran dan Pengembangan Al-Qur’an, Ustadz Umar Kustiadi, M.Ag.
Dalam sambutannya, Ustadz Khoirul Ibad menegaskan bahwa berdirinya perpustakaan bukan sekadar pembangunan sebuah ruangan yang dipenuhi rak dan buku, melainkan sebuah ikhtiar menghidupkan kembali pesan pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu perintah membaca.
“Ayat pertama yang Allah turunkan bukanlah tentang salat, zakat, ataupun haji, tetapi perintah membaca. Artinya, membangun perpustakaan sejatinya adalah membangun kehidupan sekaligus menghidupkan wahyu pertama dari Allah SWT.”
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa literasi memiliki posisi yang sangat fundamental dalam Islam. Peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaan ketika membaca, menulis, dan meneliti menjadi budaya yang mengakar. Karena itu, hadirnya Perpustakaan DUTa Lido diharapkan menjadi salah satu fondasi lahirnya kembali tradisi intelektual di lingkungan pesantren.
Saat ini, perpustakaan telah memiliki lebih dari 1.200 koleksi buku yang mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, hadis, fikih, akidah, sejarah Islam, hingga buku-buku pengembangan diri dan karya sastra. Bahkan, untuk menumbuhkan minat baca di kalangan santri, perpustakaan juga menyediakan novel dan komik edukatif sebagai pintu masuk membangun kebiasaan membaca.
“Yang terpenting adalah tumbuh dulu kecintaan terhadap membaca. Ketika minat itu sudah tumbuh, insya Allah santri akan lebih mudah memasuki kitab-kitab yang lebih besar dan lebih berat,” jelas beliau.
Sebagai bentuk keseriusan membangun budaya literasi, Departemen Pengajaran dan Pengembangan Kurikulum juga akan menerapkan program literasi bagi seluruh santri. Dalam setiap semester, setiap santri diwajibkan membaca minimal satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi, kemudian menyusun resensi sebagai bentuk refleksi atas bacaan mereka.
Program tersebut bukan dimaksudkan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai latihan membangun karakter pembelajar sepanjang hayat.
“Kita ingin melahirkan dokter yang hafal Al-Qur’an, pilot yang hafal Al-Qur’an, ilmuwan yang hafal Al-Qur’an, dan berbagai profesi lainnya yang memiliki keluasan wawasan serta menjadikan Al-Qur’an sebagai fondasi kehidupannya,” ungkap Ustadz Khoirul.
Beliau juga mengajak seluruh santri untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat rujukan dalam proses belajar. Apabila terdapat referensi yang belum tersedia, perpustakaan akan terus berupaya melengkapinya sehingga mampu memenuhi kebutuhan akademik para santri di masa mendatang.
Momentum peresmian semakin bermakna ketika Direktur Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., menyampaikan arahan yang penuh inspirasi mengenai pentingnya menjadikan membaca sebagai gaya hidup.
Beliau membuka sambutannya dengan sebuah kisah menyentuh tentang seorang ibu yang selama bertahun-tahun mengumpulkan ribuan buku dari hasil kebunnya demi mewariskan kecintaan membaca kepada anaknya. Selama belasan tahun, sebuah ruangan yang dipenuhi buku sengaja dirahasiakan hingga sang anak cukup dewasa untuk memasukinya. Dari kisah tersebut, beliau menggambarkan bahwa kecintaan terhadap buku dapat diwariskan melalui keteladanan dan kesabaran.
“Buku bukan sekadar kumpulan kertas. Buku adalah jendela yang mempertemukan kita dengan pengalaman, pemikiran, bahkan kehidupan orang-orang hebat dari berbagai zaman,” tutur beliau.
Beliau kemudian mengajak para santri untuk membaca berbagai jenis buku secara seimbang. Selain kitab-kitab keislaman, santri juga dianjurkan membaca novel-novel berkualitas karya penulis Muslim yang mampu memperkaya imajinasi, memperhalus rasa, sekaligus memperluas perspektif kehidupan.
Menurut beliau, keberadaan novel di perpustakaan merupakan solusi agar santri tetap dapat menikmati bacaan yang menarik dalam lingkungan yang terarah. Novel tidak diperbolehkan dibawa ke asrama agar tidak mengganggu aktivitas belajar, tetapi tetap tersedia di perpustakaan sebagai bagian dari pengembangan budaya membaca.
Direktur juga membagikan pengalaman pribadinya ketika menempuh pendidikan di Malaysia. Salah satu kenangan yang paling membekas baginya bukanlah ruang kuliah, melainkan perpustakaan universitas yang memiliki koleksi sangat lengkap hingga lima lantai. Di sana tersimpan berbagai buku langka, majalah bersejarah, jurnal ilmiah, bahkan koleksi khusus yang tidak dapat ditemukan di toko buku.
Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa perpustakaan merupakan ruang lahirnya pemikiran besar. Seseorang tidak akan memiliki cara pandang yang luas apabila hanya membaca satu jenis buku atau mendengar satu sudut pandang.
Beliau juga mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar mencari pembenaran terhadap pendapat sendiri, tetapi membuka diri terhadap berbagai perspektif agar lahir sikap kritis, objektif, dan bijaksana.
“Saya senang membaca buku-buku yang menggoyang cara berpikir saya. Dengan begitu kita belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan tidak mudah menghakimi orang lain,” jelas beliau.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mendorong para santri agar menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit selama berada di pesantren. Seluruh fasilitas yang tersedia, mulai dari ruang baca yang nyaman, pendingin ruangan, meja belajar, komputer, hingga rak-rak buku yang baru, dihadirkan agar santri betah menghabiskan waktu bersama buku.
Beliau berharap perpustakaan tidak pernah sepi dari aktivitas membaca dan diskusi. Justru keberhasilan perpustakaan tidak diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari ramainya para pembaca yang memanfaatkannya setiap hari.
Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa kecintaan terhadap ilmu merupakan investasi terbesar dalam kehidupan. Pengalaman akademiknya sejak jenjang sarjana hingga doktoral membuktikan bahwa proses belajar yang paling berkesan justru terjadi ketika menjelajahi berbagai koleksi perpustakaan, menemukan referensi baru, serta berdialog dengan gagasan para penulis dari berbagai belahan dunia.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung literasi dan kemudahan akses ilmu pengetahuan, DUTa Lido kini menghadirkan layanan Digital Library (Perpustakaan Digital). Platform ini dirancang modern, interaktif, dan mudah diakses kapan saja untuk membantu santri, guru, maupun civitas akademika dalam menemukan koleksi bacaan berkualitas.
Melalui sistem katalog digital (Online Public Access Catalog) ini, pengguna dapat dengan mudah:
-
Mengecek Ketersediaan Koleksi: Mengetahui ratusan judul buku cetak maupun e-book secara real-time.
-
Pencarian Cepat: Mencari buku berdasarkan judul, nama penulis, kategori, hingga nomor ISBN.
-
Informasi Statistik & Rekomendasi: Melihat statistik kunjungan, status peminjaman, serta daftar koleksi buku terpopuler.
Dengan slogan “Buku Teman Sejatimu, Ilmu Cahaya Hidupmu”, Digital Library DUTa Lido siap menjadi sahabat belajar dan sumber inspirasi Anda.

Install Aplikasi Tahfizh Dulido Mobile – Perpustakaan
Peresmian Perpustakaan DUTa Lido menjadi simbol dimulainya babak baru pembangunan budaya literasi di lingkungan Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido. Kehadiran perpustakaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif sebuah lembaga pendidikan, tetapi menjadi pusat lahirnya tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir ilmiah yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Di tengah tantangan era digital yang sering kali menjauhkan generasi muda dari budaya membaca mendalam, pesantren menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan ruang yang menghidupkan kembali tradisi literasi. Sebab, menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan, namun mengiringinya dengan keluasan ilmu akan melahirkan generasi ulul albab—generasi yang kuat hafalannya, tajam pikirannya, luas wawasannya, serta mampu memberikan manfaat bagi umat dan peradaban.
Dengan diresmikannya Perpustakaan DUTa Lido, Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido menegaskan bahwa membangun peradaban dimulai dari membangun kecintaan terhadap ilmu. Dari rak-rak buku yang kini berdiri, diharapkan lahir para pemimpin, ulama, ilmuwan, profesional, dan penggerak masyarakat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya serta ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT.



