Tahfizhdulido.com – Suasana Aula Multazam Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Ahad (12/7/2026) malam, dipenuhi ratusan santri baru yang mengikuti Pembukaan Masa Pengenalan Orientasi Pondok (MPOP) Tahun Ajaran 2026/2027. Di tengah semangat menyambut tahun ajaran baru, Kiai M. Yazid Dimyathi, S.Th.I., Lc., menyampaikan pesan yang tidak sekadar menjadi sambutan seremonial, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang identitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab seorang santri di tengah zaman yang kian penuh tantangan.
Mengawali tausiyahnya, Kiai Yazid mengajak seluruh santri untuk kembali ke pesantren bukan sekadar menghadirkan jasad, melainkan menghadirkan seluruh jiwa, akal, dan hati. Ia mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Arab, “Ya ayyatuha as-santri, udkhulu fil ma’hadi kaffah,” yang dimaknainya sebagai ajakan agar santri memasuki kehidupan pesantren secara total.
“Masuklah ke pondok secara kaffah, zahiran wa bathinan, aklan wa ruhan. Bukan hanya fisikmu yang datang, tetapi ruhmu juga harus kembali ke pondok. Bukan hanya pikiranmu, tetapi hatimu juga harus menetap di pesantren,” tegasnya di hadapan peserta MPOP.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan pesantren bukan sekadar aktivitas belajar di ruang kelas. Lebih dari itu, pesantren merupakan proses pembentukan karakter yang menuntut keterlibatan total dari setiap santri.
Dalam kesempatan itu, Kiai Yazid juga menyinggung realitas yang sedang dihadapi dunia. Menurutnya, tahun ini bukan hanya menjadi masa yang berat bagi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi periode sulit bagi masyarakat global.
“Tahun ini adalah tahun yang sulit bagi kita semua. Bahkan menjadi tahun yang sulit bagi dunia. Karena itu, ini menjadi ujian, apakah kita tetap menegaskan diri sebagai santri atau justru meninggalkan jalan itu,” ujarnya.
Dari sinilah lahir salah satu pernyataan paling kuat dalam tausiyahnya. Ia membandingkan istilah “mantan preman” dengan “mantan santri”. Menurutnya, seorang mantan preman masih memiliki kemuliaan ketika ia bertaubat, sebab perubahan hidupnya mengangkat derajatnya. Namun, ia mengingatkan bahwa istilah “mantan santri” justru menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan.
“Orang mantan preman masih mulia karena taubatnya mengangkat kemuliaannya. Tetapi kalau mantan santri, na’udzubillah. Itu hina dan terhina,” katanya dengan nada penuh penekanan.
Pernyataan tersebut bukan dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai peringatan bahwa identitas santri seharusnya melekat sepanjang hayat. Menjadi santri bukan fase sementara yang berakhir ketika meninggalkan bangku pesantren, tetapi merupakan cara hidup yang terus dibawa ke mana pun seseorang melangkah.
Sebagai penutup nasihatnya, Kiai Yazid mengajak seluruh santri memohon perlindungan Allah melalui doa, “Allahumma albisna libasat taqwa wahfazna minal balwa.” Doa itu dimaknainya sebagai permohonan agar setiap santri dihiasi dengan pakaian ketakwaan serta dijauhkan dari berbagai musibah dan fitnah kehidupan.
Tidak hanya berbicara mengenai pembinaan ruhani, Kiai Yazid juga menegaskan pentingnya regenerasi dalam sistem organisasi pesantren. Ia menyampaikan apresiasi kepada para guru yang telah menyelesaikan masa amanahnya selama tiga tahun serta menyambut para pengurus baru yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan.
Menurutnya, pergantian jabatan merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Tidak ada satu pun posisi yang bersifat abadi.
“Falsafah pondok ini adalah siap memimpin dan siap dipimpin. Tidak ada yang boleh merasa nyaman dengan jabatannya bertahun-tahun. Hari ini memimpin, besok harus siap dipimpin. Hari ini dipimpin, suatu saat harus siap memimpin,” ungkapnya.
Falsafah tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat. Kepemimpinan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang sewaktu-waktu harus diserahkan kepada orang lain demi keberlangsungan lembaga.
Ia bahkan membagikan pengalamannya ketika pernah dimutasi dari satu bidang ke bidang lain hanya dalam hitungan semester. Perpindahan tugas itu, menurutnya, menjadi bagian dari proses pendidikan agar setiap guru memiliki kesiapan menghadapi berbagai bentuk pengabdian.
“Jangan pernah merasa nyaman di satu posisi. Rolling adalah bagian dari pendidikan kita,” tegasnya.
Dalam sesi berikutnya, Kiai Yazid memperkenalkan konsep baru mengenai Wali Asuh yang akan menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan santri di Daarul Uluum Lido. Ia menjelaskan bahwa Wali Asuh bukan sekadar wali kelas ataupun wali kamar sebagaimana dipahami selama ini.
“Wali Asuh adalah pengganti orang tua kalian di pesantren,” katanya.
Menurutnya, seluruh Wali Asuh merupakan perpanjangan tangan pengasuh pesantren dalam menjalankan dua fungsi utama, yakni pembinaan pengajaran dan pengasuhan. Karena itu, satu orang Wali Asuh akan mendampingi santri baik di lingkungan kelas maupun di lingkungan kamar.
Perubahan sistem ini, jelasnya, bertujuan menciptakan pendampingan yang lebih utuh sehingga perkembangan akademik sekaligus karakter santri dapat dipantau oleh sosok yang sama.
Ia juga menjelaskan bahwa berbagai urusan administratif, seperti izin tidak mengikuti kegiatan belajar, akan melalui Wali Asuh. Namun, untuk izin keluar pesantren, keputusan tetap berada di tangan pimpinan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Kalau Wali Asuh mengizinkan tetapi pimpinan tidak mengizinkan, berarti tetap tidak diizinkan. Semua memiliki kewenangan masing-masing,” jelasnya.
Di akhir arahannya, Kiai Yazid meminta seluruh santri mengikuti setiap tahapan MPOP dengan penuh kesungguhan, termasuk proses perpindahan kamar dan penyesuaian struktur pembinaan yang akan diumumkan melalui papan informasi pesantren.
Pembukaan MPOP Daarul Uluum Lido tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi seremoni penyambutan santri baru. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang peneguhan identitas bahwa menjadi santri berarti memilih jalan pengabdian yang tidak mengenal istilah pensiun. Di tengah dunia yang terus berubah, pesan Kiai M. Yazid Dimyathi menjadi pengingat bahwa yang harus tetap dijaga bukan sekadar keberadaan di pesantren, melainkan keberlangsungan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan. Sebab, sebagaimana ia tegaskan malam itu, seorang santri boleh saja meninggalkan pondok, tetapi jangan pernah meninggalkan jati dirinya sebagai santri.