Tahfizhdulido.com – Menjadi guru di lingkungan pesantren tidak hanya berarti berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, seorang guru dituntut menjadi teladan hidup yang membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menghadirkan pendidikan melalui setiap tindakan sehari-hari. Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam Workshop Guru Pengabdian Zythera yang diselenggarakan di Aula Drs. K.H. Ahmad Dimyati pada Jumat (26/6).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh para guru pengabdian yang akan mengemban amanah selama satu tahun ke depan. Selain menjadi ajang pembacaan struktur kepengurusan dan kode etik, workshop juga menjadi momentum refleksi mengenai hakikat pengabdian di dunia pendidikan pesantren.
Dalam sambutannya, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. menegaskan bahwa keputusan organisasi yang ditetapkan pada hari itu bukan sekadar pembagian jabatan, melainkan fondasi untuk membangun budaya kerja dan pengabdian selama satu tahun mendatang.
“Yang terpenting dari menjadi guru bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan,” tegasnya.
Pendidikan Lebih Penting daripada Sekadar Pengajaran
Menurutnya, tradisi pendidikan pesantren modern sejak awal dibangun di atas keyakinan bahwa pendidikan memiliki makna yang lebih luas dibandingkan pengajaran. Mengajar hanya menyampaikan pengetahuan, sedangkan mendidik berarti membentuk kebiasaan, karakter, dan cara hidup.
Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan di pesantren berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu kegiatan belajar mengajar, pengasuhan, dan pembinaan tahfiz Al-Qur’an. Ketiga unsur tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi santri yang utuh.
“Yang ingin dibangun bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kebiasaan baik yang terus melekat dalam kehidupan mereka,” ujarnya.
Keikhlasan sebagai Fondasi Pengabdian
Salah satu nilai yang paling banyak ditekankan dalam workshop adalah keikhlasan. Bagi seorang guru pengabdian, keikhlasan tidak memiliki batas waktu dan tidak diukur dari banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan.
Dalam pemaparannya, peserta diingatkan agar tidak terjebak pada perhitungan untung-rugi dalam menjalankan amanah. Pertanyaan seperti apakah tugas tertentu dihitung sebagai jam kerja, mengapa harus membantu di luar jadwal, atau mengapa harus siap dipanggil sewaktu-waktu dinilai sebagai tanda bahwa semangat pengabdian masih perlu diperkuat.
Keikhlasan, menurut pemateri, justru tampak ketika seseorang menjalankan tugas tanpa terus-menerus mengungkit apa yang telah diberikan. Nilai inilah yang menjadi ruh utama pendidikan di pesantren.
Mencetak Manusia Paripurna
Workshop juga mengajak para guru untuk melihat santri bukan sekadar anak-anak yang sedang belajar, tetapi calon pemimpin masa depan yang dapat membawa perubahan bagi masyarakat.
Visi besar pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia paripurna: individu yang memiliki akidah yang lurus, ibadah yang baik, akhlak mulia, disiplin, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Dengan masa pengabdian yang hanya berlangsung satu tahun, para guru didorong untuk segera menyusun target pembinaan dan strategi pendampingan bagi setiap santri. Setiap kelas dan kelompok binaan dipandang sebagai amanah yang memerlukan perencanaan yang matang, bukan sekadar rutinitas harian.
Bergerak dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Menjalankan Rutinitas
Selain keikhlasan, konsep kesadaran (awareness) menjadi tema penting dalam workshop. Seorang guru tidak cukup hanya menjalankan instruksi, tetapi harus memahami alasan di balik setiap tindakan dan mampu bertindak secara refleks karena kesadaran yang telah tertanam.
Peserta diajak melakukan refleksi melalui tiga pertanyaan sederhana namun mendalam:
- Apa yang sedang dilakukan saat ini?
- Apa yang sedang dirasakan ketika menjalankan tugas tersebut?
- Apa yang berpotensi membuat semangat pengabdian menurun?
Melalui proses refleksi tersebut, guru diharapkan mampu menjaga motivasi dan kembali kepada tujuan awal ketika menghadapi kejenuhan maupun tantangan di lapangan.
Dalam sesi tersebut juga disinggung pentingnya mengelola penggunaan gawai dan hiburan digital. Kebiasaan begadang untuk bermain gim atau menonton hingga larut malam dinilai dapat mengganggu kualitas pengabdian dan mengurangi kesiapan dalam mendampingi santri.
Menjaga Muru’ah sebagai Seorang Guru
Sementara itu, Ustazah Desi Maziyah, S.E. mengingatkan bahwa status sebagai guru membawa tanggung jawab moral untuk menjaga muru’ah atau kehormatan diri.
Menurutnya, keikhlasan yang telah dilatih sejak menjadi santri harus terus berlanjut ketika memasuki fase pengabdian sebagai pendidik. Menjadi guru bukan berarti bebas dari aturan, melainkan justru dituntut memiliki disiplin dan tanggung jawab yang lebih tinggi.
Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga etika dalam berinteraksi, termasuk penggunaan panggilan yang sopan antar sesama guru serta membangun budaya saling menghormati.
Dalam aspek penampilan, para guru diimbau untuk berpakaian sederhana, rapi, dan sesuai dengan nilai-nilai kesopanan pesantren. Penampilan dipandang sebagai bagian dari keteladanan yang akan dilihat dan ditiru oleh para santri.
Budaya Kolaborasi dan Kepedulian terhadap Lingkungan
Workshop turut menekankan pentingnya semangat kerja sama lintas divisi. Guru pengabdian diharapkan tidak membatasi diri hanya pada tugas formal yang telah ditetapkan, tetapi siap membantu kebutuhan lembaga kapan pun diperlukan.
Baik dalam kegiatan akademik, pengasuhan, pelayanan dapur, maupun kepanitiaan, seluruh guru didorong untuk saling mendukung dan tidak bekerja secara sektoral.
Selain itu, perhatian juga diberikan pada budaya menjaga fasilitas bersama. Kebersihan area dapur, kerapian peralatan, serta ketertiban penggunaan fasilitas umum dipandang sebagai bagian dari pendidikan karakter yang harus dimulai dari para guru.
Hal serupa berlaku untuk penjagaan gerbang pesantren. Gerbang disebut sebagai “wajah lembaga” sekaligus titik penting dalam menjaga keamanan lingkungan. Oleh sebab itu, kedisiplinan dalam menjalankan tugas piket menjadi tanggung jawab bersama.
Guru Tetap Seorang Pembelajar
Menjelang akhir workshop, seluruh peserta diingatkan bahwa status sebagai guru tidak berarti proses belajar telah selesai. Justru masa pengabdian merupakan fase pembelajaran baru yang menuntut kerendahan hati untuk terus menerima evaluasi dan memperbaiki diri.
Kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan amanah harus dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan, bukan alasan untuk berhenti berkembang. Selama berada dalam koridor nilai-nilai pesantren, setiap guru diharapkan terus meningkatkan kualitas pribadi sekaligus kualitas pelayanan kepada para santri.
Workshop Guru Pengabdian Zythera pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda administratif untuk menetapkan struktur organisasi dan menyampaikan kode etik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang peneguhan kembali filosofi pendidikan pesantren: bahwa keberhasilan seorang guru tidak semata diukur dari banyaknya materi yang diajarkan, tetapi dari keteladanan, keikhlasan, dan kesadaran yang mampu menginspirasi lahirnya generasi berkarakter dan berakhlak mulia.
