Tahfizhdulido.com – Menjelang masa perpulangan santri dan pembagian rapor akhir tahun ajaran, suasana berbeda terasa di Masjid Al-Maktoum pada Selasa malam (23/6/2026). Ratusan santri berkumpul mengikuti kegiatan Kuliah Etiket Sebelum Perpulangan yang disampaikan oleh Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., yang akrab disapa Abi Bay, sebuah agenda tahunan yang tidak berbicara tentang nilai akademik semata, melainkan tentang sesuatu yang dianggap jauh lebih penting: karakter dan adab seorang santri
Di tengah euforia kenaikan kelas, pengumuman juara paralel, juara umum, dan berbagai penghargaan lainnya, pesan utama yang disampaikan justru mengajak para santri untuk tidak terjebak pada angka-angka rapor.
“Dalam ilmu mungkin ada istilah naik kelas. Tetapi dalam akhlak tidak ada istilah naik kelas,” tegas Dr. Tubagus Bay Amri Hakim di hadapan seluruh santri.
Pernyataan tersebut menjadi pembuka dari kuliah etiket yang berlangsung selama dua jam. Sebuah pengingat bahwa seseorang yang naik kelas belum tentu mengalami kenaikan kualitas akhlak, sementara mereka yang tidak naik kelas bukan berarti gagal menjadi pribadi yang baik.
Rapor Sesungguhnya Ada di Rumah dan Masyarakat
Menurutnya, rapor yang diterima santri di akhir semester hanyalah gambaran capaian akademik. Adapun rapor yang sesungguhnya akan terlihat ketika para santri kembali ke rumah dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di pesantren, santri terbiasa hidup dalam sistem yang teratur. Ada jadwal salat berjamaah, jadwal belajar, jadwal kebersihan, hingga berbagai aturan yang mengarahkan perilaku mereka setiap hari.
Namun, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika pengawasan itu tidak lagi ada.
“Kalau di pesantren masih harus dibangunkan untuk salat, masih harus diingatkan ke masjid, maka ketika pulang ke rumah justru kalian yang harus menjadi pengingat bagi keluarga,” ujarnya.
Dalam pandangan beliau, seorang santri ideal bukanlah mereka yang hanya patuh ketika berada di lingkungan pesantren. Seorang santri sejati adalah mereka yang mampu membawa nilai-nilai pesantren ke mana pun berada.
Ketika teman-teman mengajak bermain di pusat perbelanjaan dan waktu salat telah tiba, santri seharusnya menjadi orang pertama yang mengingatkan. Ketika berada di rumah, santri semestinya menjadi pribadi yang ringan tangan membantu pekerjaan orang tua tanpa harus menunggu perintah.
Membersihkan kamar, menyapu rumah, mencuci piring, membantu menyiapkan makanan, atau sekadar merapikan lingkungan sekitar menjadi bentuk pendidikan karakter yang sesungguhnya.
“Tidak perlu mengumumkan kepada orang lain bahwa kalian santri. Biarkan perilaku kalian yang berbicara,” pesannya.
Antara Islam, Iman, dan Ihsan
Dalam kuliah tersebut, Abi juga menyinggung satu konsep yang menurutnya sering terlupakan dalam pendidikan keagamaan, yaitu ihsan.
Ia menjelaskan bahwa setelah seseorang menjalankan rukun Islam dan mengimani rukun iman, masih ada satu tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ihsan.
Ihsan adalah keadaan ketika seseorang beribadah seolah-olah melihat Allah. Jika tidak mampu melihat-Nya, maka ia yakin bahwa Allah selalu melihat dirinya.
Konsep ini kemudian diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang memindahkan paku atau duri dari jalan agar tidak mencelakakan orang lain tidak perlu mengunggahnya ke media sosial. Kebaikan tidak membutuhkan panggung. Kebaikan tidak harus selalu mendapatkan tepuk tangan.
Kritik ini terasa relevan di tengah budaya digital saat ini yang sering kali mengubah tindakan sosial menjadi ajang pencitraan.
“Yang penting bukan manusia melihat kita. Yang penting Allah melihat kita,” ujarnya.
Etika Bertamu yang Mulai Dilupakan
Salah satu bagian yang menarik perhatian para santri adalah pembahasan mengenai etika bertamu.
Abi mengingatkan bahwa masa liburan sering diisi dengan kunjungan ke rumah teman. Namun, ada banyak etika yang perlahan mulai hilang dalam kehidupan modern.
Ia mengingatkan agar santri tidak terlalu lama menginap di rumah teman. Menurutnya, dua hari sudah menjadi batas yang cukup.
“Kalian mungkin merasa senang bersama teman-teman. Tetapi yang paling merindukan kalian sebenarnya adalah orang tua di rumah,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengetuk pintu dengan sopan, mengucapkan salam, menunggu izin sebelum masuk, serta tidak duduk sebelum dipersilakan.
Lebih jauh lagi, ia menyoroti kebiasaan sebagian generasi muda yang terlalu bebas ketika berada di rumah orang lain, mulai dari membuka lemari tanpa izin hingga bersikap seolah berada di rumah sendiri.
“Kesopanan dimulai dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele,” tegasnya.
Makan Bukan Sekadar Mengenyangkan Perut
Pembahasan etika kemudian berlanjut pada adab makan.
Menurutnya, makanan yang disediakan tuan rumah harus dihargai, meskipun mungkin tidak sesuai dengan selera pribadi.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan.
Jika menyukai makanan, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya tanpa mencela.
Pesan ini menjadi kritik halus terhadap budaya generasi digital yang terkadang terlalu mudah mengeluh terhadap hal-hal kecil.
“Jangan sampai orang tua teman sudah berusaha menyambut dengan baik, tetapi kita justru menunjukkan ketidaksukaan terhadap makanan yang disajikan,” ujarnya.
Etika makan lainnya seperti tidak berbicara saat mulut penuh, tidak mengunyah dengan suara keras, dan tidak mengambil makanan secara berlebihan juga kembali diingatkan kepada para santri.
Ancaman yang Bernama Media Sosial
Bagian paling panjang dan paling kritis dalam kuliah etiket malam itu adalah pembahasan mengenai penggunaan gawai dan media sosial.
Abi menyoroti bagaimana telepon genggam kini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan remaja.
Ia mengingatkan bahwa teknologi bukanlah musuh. Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi mengambil alih kendali atas kehidupan seseorang.
Ketika sedang berbicara dengan orang tua, teman, atau keluarga, telepon genggam seharusnya disimpan terlebih dahulu. Tidak ada percakapan yang sehat jika perhatian terbagi dengan layar yang terus menyala.
Lebih jauh, ia mengkritik budaya komentar dan berbagi informasi tanpa pemahaman yang cukup.
Menurutnya, banyak orang terjebak dalam kebiasaan mengomentari isu sosial, politik, atau internasional tanpa benar-benar memahami persoalan yang sedang dibicarakan.
Fenomena ini dinilai berbahaya karena dapat melahirkan kebencian, prasangka, dan penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab.
“Kalau tidak memahami persoalannya, jangan terburu-buru menjadi hakim di media sosial,” pesannya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa jejak digital saat ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh kampus maupun perusahaan ketika menerima mahasiswa atau calon pekerja.
Apa yang diunggah hari ini dapat menentukan kesempatan yang datang di masa depan.
Dua Penyakit Digital yang Harus Dijauhi
Dalam bagian penutup, Abi memberikan peringatan keras mengenai dua ancaman besar di dunia digital yang menurutnya memiliki dampak sangat merusak.
Pertama adalah perjudian daring.
Menurutnya, perjudian online memiliki pola kecanduan yang sangat mirip dengan narkoba. Sekali terjerumus, seseorang akan sulit keluar dari lingkarannya.
Kedua adalah pornografi.
Ia menyebut pornografi sebagai salah satu penyakit digital yang paling berbahaya karena merusak cara berpikir, memengaruhi kesehatan mental, dan perlahan menggerus nilai-nilai moral seseorang.
Kedua hal tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian serius seluruh santri selama masa liburan ketika akses terhadap gawai dan internet menjadi jauh lebih bebas dibandingkan saat berada di lingkungan pesantren.
Pendidikan Karakter yang Tidak Pernah Selesai
Kuliah etiket yang berlangsung hingga menjelang pukul 22.00 WIB itu sejatinya bukan sekadar sesi nasihat menjelang liburan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan karakter tidak pernah selesai.
Nilai akademik mungkin menentukan kenaikan kelas. Namun kehidupan akan menguji hal lain yang jauh lebih mendasar: bagaimana seseorang berbicara, bersikap, menghormati orang lain, menggunakan teknologi, dan menjaga dirinya ketika tidak ada yang mengawasi.
Di tengah era ketika ukuran keberhasilan sering direduksi menjadi angka rapor, sertifikat, dan prestasi, pesan yang disampaikan malam itu terasa sederhana namun mendalam.
Bahwa seorang santri tidak diukur dari seberapa tinggi nilainya, melainkan dari seberapa jauh nilai-nilai yang dipelajarinya benar-benar hidup dalam kesehariannya.
Karena pada akhirnya, rapor terbaik seorang santri bukanlah lembar kertas yang dibagikan di akhir semester, melainkan jejak akhlak yang ditinggalkannya di rumah, di masyarakat, dan di mana pun ia berada.
