Tahfizhdulido.com – Selasa, 23 Juni 2026. Suasana Masjid Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido sore itu dipenuhi para asatidz, asatidzah, dan santri yang mengikuti kegiatan Bintang Belajar Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido. Dalam acara yang berlangsung selepas Ashar tersebut, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menyampaikan irsyadat wa taujihat yang tidak hanya menjadi motivasi bagi para santri berprestasi, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang hakikat pendidikan pesantren di tengah perubahan zaman.
Di hadapan para guru dan santri, beliau mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar pencapaian akademik, target hafalan, atau angka-angka dalam rapor. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses panjang membentuk karakter, membiasakan nilai-nilai kebaikan, dan menanamkan prinsip hidup yang kelak akan terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia pendidikan saat ini cenderung diukur melalui capaian-capaian yang bersifat instan dan terukur, sementara aspek pembentukan akhlak dan karakter justru sering kali terpinggirkan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan modern yang semakin sibuk mengejar angka, sertifikat, dan capaian akademik, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kembali diajukan: apa sebenarnya tujuan pendidikan?
Pertanyaan ini mengemuka dalam sebuah tausiyah yang disampaikan pada kegiatan Bintang Belajar di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Muhammad Yazid Dimyati mengajak para guru, santri, dan orang tua untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih dalam: bukan sekadar soal pengajaran, melainkan pembentukan karakter dan kebiasaan hidup.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi terasa semakin relevan di tengah krisis orientasi pendidikan yang terjadi hari ini.
Ketika Pendidikan Direduksi Menjadi Target dan Prestasi
Hari ini, banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba menawarkan berbagai keunggulan. Ada yang menjanjikan hafalan Al-Qur’an dalam waktu tertentu. Ada yang menawarkan kemampuan bahasa asing. Ada pula yang menjual janji kelulusan ke universitas ternama atau peluang kerja yang lebih besar.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun persoalannya muncul ketika pendidikan hanya dipahami sebagai alat untuk mencapai hasil-hasil tersebut.
Akibatnya, masyarakat mulai menilai sekolah dan pesantren dengan ukuran yang sangat pragmatis: “Apa yang akan didapat anak saya setelah lulus?”
Pertanyaan tentang proses perlahan tergeser oleh obsesi terhadap hasil.
Padahal, sejarah lembaga-lembaga pendidikan besar menunjukkan bahwa kekuatan mereka justru terletak pada proses pembentukan manusia, bukan semata-mata pencapaian akademiknya.
Dalam konteks inilah, pesan yang diwariskan oleh Pondok Modern Gontor menjadi menarik untuk direnungkan kembali.
Pelajaran dari Hal yang Dianggap Sepele
Kiai Yazid menceritakan pengalamannya menghadiri sebuah pertemuan besar para pimpinan dan alumni Gontor. Ada satu hal yang menarik perhatiannya.
Setiap kali seorang kiai mengucapkan salam, ribuan santri menjawabnya secara serempak, lantang, dan penuh penghormatan.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terlihat biasa saja. Bahkan mungkin dianggap sebagai hasil latihan atau pengondisian belaka.
Namun justru di situlah letak pelajarannya.
Gontor selama lebih dari satu abad tidak pernah menganggap hal-hal kecil sebagai sesuatu yang remeh. Bahkan cara mengucapkan dan menjawab salam pun menjadi bagian dari proses pendidikan yang serius.
Mengapa?
Karena pendidikan sejati tidak berhenti pada pengetahuan tentang apa yang benar. Pendidikan harus sampai pada tahap pembiasaan melakukan yang benar.
Anak-anak mungkin sudah mengetahui hukum mengucapkan salam. Mereka mungkin sudah belajar dalil-dalilnya. Mereka paham teori dan fiqihnya.
Tetapi apakah mereka terbiasa melakukannya?
Di sinilah perbedaan antara pengajaran dan pendidikan.
Pengajaran membuat seseorang tahu.
Pendidikan membuat seseorang terbiasa.
Pengetahuan tanpa pembiasaan sering kali hanya berhenti sebagai teori yang tidak pernah hidup dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan Adalah Kebiasaan yang Diulang
Salah satu krisis terbesar pendidikan modern adalah kecenderungan menganggap pengetahuan sebagai tujuan akhir.
Padahal manusia tidak dibentuk oleh apa yang diketahuinya, melainkan oleh apa yang terus-menerus dilakukannya.
Seorang anak tidak menjadi disiplin karena memahami definisi disiplin.
Ia menjadi disiplin karena dibiasakan hidup disiplin.
Seorang anak tidak menjadi jujur karena hafal materi tentang kejujuran.
Ia menjadi jujur karena terbiasa berkata benar, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Karena itulah pesantren sejak dahulu dikenal sebagai institusi yang sangat menekankan pembiasaan. Jadwal yang teratur, aturan yang konsisten, adab terhadap guru, kebiasaan berjamaah, hingga rutinitas membaca Al-Qur’an setelah shalat semuanya merupakan bagian dari proses pendidikan.
Banyak orang melihatnya sebagai rutinitas biasa. Namun justru di situlah karakter dibangun.
Karakter tidak lahir dari ceramah yang panjang. Karakter lahir dari kebiasaan yang diulang setiap hari.
Mengapa Nilai-Nilai Pesantren Semakin Sulit Dipertahankan?
Dalam ceramahnya, Kiai Yazid juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi pesantren saat ini.
Masyarakat modern cenderung memilih lembaga pendidikan berdasarkan keuntungan yang terlihat secara langsung.
Lembaga yang menjanjikan kemampuan bahasa asing, akses ke perguruan tinggi, atau peluang karier sering kali lebih diminati dibandingkan lembaga yang fokus pada pembentukan karakter.
Akibatnya, banyak institusi pendidikan tergoda untuk mengubah orientasi mereka demi mengikuti tuntutan pasar.
Mereka mulai mengurangi aspek-aspek pendidikan karakter yang dianggap tidak “menjual” dan menggantinya dengan program-program yang lebih mudah dipromosikan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di sekolah umum, tetapi juga di banyak pesantren.
Pertanyaannya, jika semua lembaga pendidikan hanya mengejar apa yang laku di pasaran, siapa yang akan menjaga nilai-nilai pendidikan itu sendiri?
Inilah tantangan besar yang sedang dihadapi dunia pesantren.
Bertahan pada prinsip sering kali tidak populer. Namun justru karena itulah prinsip menjadi berharga.
Keikhlasan yang Menjadi Fondasi
Salah satu nilai utama yang diwariskan tradisi pesantren adalah keikhlasan.
Nilai ini mungkin terdengar klasik, bahkan dianggap tidak relevan oleh sebagian orang. Namun sesungguhnya keikhlasan merupakan fondasi yang memungkinkan sebuah lembaga bertahan dalam jangka panjang.
Keikhlasan membuat seseorang tetap bekerja meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.
Keikhlasan membuat seorang guru tetap mengajar meskipun hasilnya tidak langsung terlihat.
Keikhlasan membuat pendidikan tetap berorientasi pada pembentukan manusia, bukan semata-mata keuntungan.
Dalam tradisi pesantren, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan hidup bagi para santri.
Mereka mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Lihatlah Prosesnya, Jangan Hanya Hasilnya
Salah satu kritik paling tajam dalam tausiyah tersebut adalah kecenderungan masyarakat yang terlalu fokus pada hasil.
Padahal hasil sering kali hanyalah konsekuensi dari proses yang panjang.
Orang ingin melihat lulusan yang sukses.
Tetapi tidak banyak yang tertarik membicarakan proses kedisiplinan yang melahirkannya.
Orang ingin melihat hafizh Al-Qur’an.
Namun tidak banyak yang ingin memperhatikan perjuangan panjang dalam membangun kebiasaan murajaah setiap hari.
Padahal dalam kehidupan, hukum sebab-akibat tetap berlaku.
Siapa yang menanam kesungguhan akan menuai kesungguhan.
Siapa yang menanam kejujuran akan menuai kepercayaan.
Siapa yang menanam disiplin akan menuai keberhasilan.
Karena itu, pendidikan sejati selalu berfokus pada proses menanam.
Hasil akan mengikuti.
Rapor Sejati Ada di Rumah
Di penghujung ceramah, Kiai Yazid menyampaikan pesan yang sangat menyentuh para santri.
Beliau mengingatkan bahwa rapor yang sesungguhnya bukanlah angka yang tercetak di atas kertas.
Raport sejati adalah diri santri itu sendiri.
Ketika seorang santri pulang ke rumah, orang tua akan melihat hasil pendidikan yang sebenarnya.
Apakah ia bangun shalat tanpa harus dibangunkan?
Apakah ia tetap membaca Al-Qur’an ketika tidak ada guru yang mengawasi?
Apakah ia menghormati orang tua dan menjaga adab di rumah?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih bermakna daripada deretan angka dalam rapor.
Sebab pendidikan yang berhasil akan tampak dalam perilaku sehari-hari.
Nilainya terlihat dalam akhlak.
Prestasinya tercermin dalam kebiasaan.
Dan hasilnya hadir dalam karakter.
Menyelamatkan Makna Pendidikan
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah perlombaan mengumpulkan sertifikat, piala, atau capaian akademik semata.
Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia.
Membentuk cara berpikirnya.
Membentuk kebiasaannya.
Membentuk akhlaknya.
Membentuk tanggung jawabnya kepada Allah, keluarga, dan masyarakat.
Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa mengejar hasil instan, pesan yang lahir dari tradisi pesantren ini menjadi pengingat yang penting: jangan sampai kita kehilangan esensi pendidikan karena terlalu sibuk mengejar prestasi.
Sebab yang akan dikenang oleh masyarakat bukanlah angka yang pernah kita raih, melainkan karakter yang kita tunjukkan.
Dan karakter itu tidak lahir dalam semalam. Ia dibentuk setiap hari, melalui pendidikan yang sabar, konsisten, dan penuh keteladanan.