Tahfizhdulido.com – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H, akan diselenggarakan Pembacaan Kitab Al-Kawākib ad-Durriyyah fī Hijrati Khairil Bariyyah yang menghadirkan Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., Khodimul Ma’had, sebagai pengisi kajian. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026, ba’da Magrib hingga selesai, bertempat di Masjid Al Hadi, dan diharapkan dapat dihadiri oleh seluruh Dewan Asatidz. Momentum ini bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan ruang untuk merefleksikan kembali makna hijrah melalui kisah perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang menjadi fondasi tegaknya peradaban Islam.
Tahun Baru Hijriah sering kali diperingati sebagai pergantian angka dalam kalender Islam. Padahal, di balik momentum tersebut tersimpan kisah panjang tentang pengorbanan, keteguhan iman, dan perjuangan yang mengubah arah sejarah dunia. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol keberanian untuk mempertahankan kebenaran di tengah tekanan, intimidasi, dan ketidakpastian.
Melalui pembacaan Kitab Al-Kawākib ad-Durriyyah fī Hijrati Khairil Bariyyah, kita diajak menelusuri kembali fase-fase paling menentukan dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menyodorkan pertanyaan penting bagi umat Islam masa kini: bagaimana cara kita memuliakan agama di tengah tantangan zaman?
Islam Tidak Dibangun oleh Satu Jenis Manusia
Salah satu pelajaran paling menarik dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ adalah kenyataan bahwa Islam berkembang melalui tangan orang-orang dengan latar belakang dan karakter yang sangat beragam.
Ada sosok lembut seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang menawan hati dengan ketulusan dan kasih sayangnya. Ada Umar bin Khattab yang sebelumnya dikenal keras dan menjadi penentang Islam, tetapi setelah mendapat hidayah justru berubah menjadi benteng kokoh bagi kaum muslimin. Ada Utsman bin Affan yang dikenal pemalu dan dermawan, Abdurrahman bin Auf yang sukses sebagai pedagang kaya raya, hingga Abdullah bin Mas’ud yang sederhana tetapi memiliki kedalaman ilmu Al-Qur’an yang luar biasa.
Keberagaman itu menunjukkan bahwa Islam tidak menuntut semua orang memiliki karakter yang sama. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk mengabdikan kemampuan terbaik demi kemaslahatan umat. Ada yang berjuang dengan ilmu, ada yang dengan keberanian, ada yang dengan kekayaan, dan ada pula yang dengan kesabaran menghadapi penderitaan.
Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Tidak semua orang harus menjadi penceramah atau pemimpin. Namun setiap individu memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai bidang dan kapasitasnya.
Umar bin Khattab dan Keberanian Menampilkan Kebenaran
Masuk Islamnya Umar bin Khattab menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah dakwah. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang paling keras memusuhi Nabi Muhammad ﷺ. Namun ketika hidayah datang, keberaniannya justru menjadi kekuatan besar bagi kaum muslimin.
Pada masa itu, umat Islam masih beribadah secara sembunyi-sembunyi karena ancaman penyiksaan dari kaum Quraisy. Umar memandang bahwa kebenaran tidak selayaknya terus disembunyikan. Dengan keberanian luar biasa, ia tampil di hadapan masyarakat Mekah dan mengumumkan keislamannya secara terbuka.
Keberanian Umar bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keberanian moral untuk berdiri di pihak yang benar ketika risiko begitu besar. Dari peristiwa ini lahir pelajaran bahwa mempertahankan prinsip sering kali membutuhkan pengorbanan, tetapi justru di sanalah kemuliaan seseorang diuji.
Dakwah yang Dibayar dengan Air Mata dan Darah
Romantisasi sejarah Islam sering kali membuat orang lupa bahwa dakwah Nabi Muhammad ﷺ dipenuhi penderitaan yang nyata. Kaum muslim generasi awal menghadapi penyiksaan yang sangat berat.
Keluarga Yasir menjadi simbol keteguhan tersebut. Sumayyah binti Khayyat rela mempertahankan keimanannya hingga gugur sebagai syahidah. Yasir dan Ammar bin Yasir pun mengalami penyiksaan yang luar biasa hanya karena mengucapkan kalimat tauhid.
Rasulullah ﷺ sendiri tidak luput dari penghinaan. Rumah beliau dilempari kotoran, dicekik hingga hampir kehilangan nyawa, dicaci oleh kaumnya sendiri, bahkan diikuti oleh orang-orang yang terus menyebarkan fitnah agar masyarakat menjauhinya.
Ironisnya, fitnah yang dirancang untuk menghancurkan dakwah justru menjadi jalan bagi banyak orang mengenal Nabi Muhammad ﷺ. Semakin sering nama beliau dibicarakan, semakin banyak orang penasaran dan akhirnya mendengar langsung ajaran Islam yang penuh rahmat.
Fenomena ini mengajarkan bahwa kebenaran yang dijaga dengan kesabaran sering kali menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepada hati manusia.
Abu Bakar dan Ketulusan yang Menggerakkan Perubahan
Jika Umar menunjukkan keberanian, maka Abu Bakar memperlihatkan kekuatan kelembutan hati. Ia mengorbankan harta bendanya demi membebaskan budak-budak yang disiksa karena memeluk Islam, termasuk mereka yang lemah dan tidak memiliki pelindung.
Ketika tekanan terhadap kaum muslim semakin keras, Abu Bakar bahkan sempat berniat berhijrah. Namun setelah memperoleh jaminan keamanan dari seorang tokoh Quraisy, ia tetap tinggal di Mekah dengan syarat hanya beribadah di dalam rumah.
Menariknya, dari rumah itulah dakwah terus menyebar. Suara bacaan Al-Qur’an Abu Bakar yang penuh kekhusyukan menarik perhatian orang-orang yang lewat. Banyak di antara mereka diam-diam mendengarkan hingga tersentuh oleh keindahan ayat-ayat Allah.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pengaruh seseorang tidak selalu lahir dari panggung besar. Ketulusan dalam ibadah dan akhlak yang baik sering kali menjadi dakwah paling efektif.
Ketika Penolakan Tidak Menghentikan Langkah
Puncak ujian Rasulullah ﷺ terlihat dalam perjalanan ke Thaif. Setelah kehilangan dua pelindung terbesarnya—Abu Thalib dan Khadijah—beliau berharap menemukan dukungan baru di kota tersebut.
Harapan itu pupus. Para pemuka Thaif menolak dakwah beliau dan bahkan menghasut anak-anak untuk melempari Nabi dengan batu hingga kaki beliau berdarah.
Di tengah penderitaan itu, Rasulullah tidak memilih balas dendam. Ketika malaikat menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif, beliau justru menolaknya seraya berharap kelak akan lahir dari keturunan mereka orang-orang yang beriman kepada Allah.
Sikap ini memperlihatkan kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Nabi tidak hanya memikirkan kemenangan sesaat, tetapi masa depan peradaban. Beliau memilih memberi kesempatan bagi perubahan daripada menuruti kemarahan.
Doa beliau di Thaif menjadi salah satu ungkapan ketundukan paling menyentuh dalam sejarah Islam: selama Allah tidak murka kepadanya, maka segala penderitaan di dunia terasa ringan untuk ditanggung.
Mukjizat Tidak Pernah Menjadi Tujuan Utama
Dalam perjalanan dakwah, berbagai mukjizat ditampakkan kepada Rasulullah ﷺ, mulai dari terbelahnya bulan, pohon yang datang memenuhi panggilan beliau, hingga batu dan pepohonan yang memberikan salam.
Namun menariknya, mukjizat-mukjizat tersebut tidak otomatis membuat semua orang beriman. Sebagian kaum Quraisy justru menuduhnya sebagai sihir.
Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukanlah kurangnya bukti, melainkan kesiapan hati untuk menerima kebenaran. Sebesar apa pun keajaiban yang disaksikan, hati yang tertutup akan tetap mencari alasan untuk menolak.
Sebaliknya, orang yang jujur dalam mencari kebenaran dapat memperoleh hidayah hanya melalui bacaan Al-Qur’an atau akhlak mulia seorang muslim.
Hijrah Berawal dari Sebuah Tekad
Menariknya, penanggalan Hijriah tidak dimulai dari kelahiran Nabi ataupun turunnya wahyu pertama. Ia dikaitkan dengan momentum hijrah, sebuah keputusan strategis yang mengubah arah perkembangan Islam.
Hijrah sendiri tidak lahir secara tiba-tiba. Ia diawali dengan pertemuan Nabi Muhammad ﷺ dengan enam orang dari Yatsrib yang kemudian menerima dakwah Islam dan membuka jalan bagi berkembangnya komunitas muslim di Madinah.
Dari sinilah terlihat bahwa perubahan besar sering kali bermula dari langkah kecil dan pertemuan yang tampaknya sederhana. Sebuah dialog yang tulus dapat melahirkan transformasi sejarah.
Makna hijrah pada akhirnya bukan sekadar berpindah tempat, melainkan keberanian meninggalkan kondisi yang menghambat kebaikan menuju keadaan yang lebih bermakna dan lebih diridhai Allah.
Memuliakan Islam dengan Jalan Masing-Masing
Pelajaran terbesar dari kisah para sahabat adalah bahwa tidak ada satu model baku dalam mengabdi kepada agama. Islam menjadi kuat karena kontribusi banyak karakter.
Ada yang menguatkan dengan keberanian seperti Umar, ada yang menguatkan dengan kekayaan seperti Abdurrahman bin Auf, ada yang memuliakan Islam dengan kelembutan seperti Abu Bakar, ada yang mengabdikan hidupnya melalui ilmu seperti Abdullah bin Mas’ud, dan ada yang mempertahankan iman hingga titik darah terakhir seperti keluarga Yasir.
Pertanyaan yang layak direnungkan pada momentum Tahun Baru Hijriah adalah: di manakah posisi kita dalam perjuangan itu?
Tidak semua orang dipanggil menjadi pemimpin besar, tetapi setiap orang memiliki kesempatan menjadi bagian dari kebaikan. Seorang guru memuliakan Islam melalui pendidikan, pedagang melalui kejujuran, penulis melalui gagasan yang mencerahkan, dan masyarakat umum melalui akhlak yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Hijrah sejati pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah dari Mekah ke Madinah, melainkan berpindah dari rasa takut menuju keberanian, dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan bersama, dan dari sekadar mengaku beriman menuju benar-benar menghadirkan manfaat bagi sesama.
Sejarah dakwah Rasulullah ﷺ mengajarkan satu hal yang tetap relevan hingga hari ini: agama ini tidak dibangun oleh manusia yang sempurna, melainkan oleh mereka yang bersedia mempersembahkan kemampuan terbaiknya di jalan kebenaran. Di tengah dunia yang terus berubah, semangat itulah yang perlu terus dihidupkan.
Pada akhirnya, hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang setiap datangnya 1 Muharram, melainkan ajakan untuk terus memperbaiki diri dan mengambil peran dalam memuliakan agama sesuai kemampuan masing-masing. Sebagaimana para sahabat yang memiliki karakter dan jalan perjuangan yang berbeda-beda, setiap muslim pun memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui ilmu, akhlak, keberanian, maupun pengabdian.

