Belajar Tauhid, Pengorbanan, dan Keikhlasan dari Madrasah Nabi Ibrahim

Tahfizhdulido.com – Hari Raya Idul Adha sering kali hadir sebagai rutinitas tahunan yang meriah. Takbir menggema di masjid, hewan kurban berjejer di halaman, dan media sosial dipenuhi ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Namun di tengah semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah Idul Adha masih benar-benar mampu mengubah manusia?

Di banyak tempat, kurban hanya berhenti pada seremoni penyembelihan. Daging dibagikan, foto diambil, lalu kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Padahal, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah madrasah tauhid. Ia adalah sekolah pengorbanan. Ia adalah momentum untuk memeriksa ulang kepada siapa sebenarnya hati manusia bergantung.

Pesan itulah yang sangat kuat disampaikan dalam khutbah Idul Adha 1447 H di Masjid Jami’ Al Hadi, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, yang disampaikan oleh Kyai Moh. Yazid Dimyati,S.Th.I., Lc.  Dalam khutbahnya, beliau mengingatkan bahwa nikmat terbesar bukanlah harta, jabatan, atau kenikmatan fisik, melainkan “ni’matul ibadah” — kenikmatan ketika seseorang masih diberi hati yang hidup untuk beribadah kepada Allah.

Di era hari ini, manusia terlalu sibuk mengejar kenikmatan duniawi sampai lupa mensyukuri nikmat iman. Orang merasa sukses ketika rekeningnya bertambah, tetapi tidak merasa rugi ketika shalatnya mulai hilang kekhusyukan. Orang takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah. Padahal, menurut khutbah tersebut, kehancuran terbesar manusia justru dimulai ketika ia tidak lagi merasakan lezatnya ibadah.

Idul Adha datang untuk mengguncang cara berpikir semacam itu.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya cerita sejarah yang dibaca setiap tahun. Ia adalah cermin bagi kehidupan manusia modern yang sedang mengalami krisis ketergantungan. Manusia hari ini terlalu bergantung kepada “asbab” — kepada uang, relasi, jabatan, teknologi, bahkan validasi manusia — seolah semua itu adalah penentu mutlak keselamatan hidupnya.

Padahal Nabi Ibrahim mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar: asbab hanyalah jalan, bukan tujuan. Pisau tidak bisa memotong tanpa izin Allah. Api tidak bisa membakar tanpa izin Allah. Obat tidak menyembuhkan tanpa izin Allah. Semua sebab hanyalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali atas kehendak-Nya.

Di sinilah letak kritik paling tajam dari pesan Idul Adha hari ini. Banyak manusia beriman secara lisan, tetapi hatinya masih bertumpu sepenuhnya kepada dunia. Ketika uang menipis, ia panik. Ketika manusia mengecewakan, ia hancur. Ketika jabatan hilang, hidupnya runtuh. Mengapa? Karena sandaran utamanya bukan Allah, melainkan makhluk.

Khutbah tersebut mengingatkan sebuah pelajaran besar dari Nabi Ibrahim AS: tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi memastikan bahwa hati tidak salah bergantung. Islam tidak melarang manusia bekerja, belajar, berobat, atau mencari rezeki. Namun Islam melarang manusia menuhankan sebab-sebab duniawi.

Inilah tauhid yang mulai hilang dalam kehidupan modern.

Lebih jauh lagi, Idul Adha juga mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar bukanlah menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego dalam diri sendiri. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan.

Betapa banyak orang mampu membeli sapi, tetapi tidak mampu memotong kesombongannya. Betapa banyak orang mudah membagikan daging kurban, tetapi sulit memaafkan saudaranya sendiri. Betapa banyak orang rajin beribadah, tetapi lisannya masih gemar melukai orang lain.

Inilah ironi yang sedang terjadi.

Manusia hari ini sering merasa religius hanya karena ritualnya ramai, padahal akhlaknya masih rapuh. Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk menyembelih sifat-sifat buruk yang selama ini dipelihara diam-diam: iri hati, dendam, gengsi, egoisme, kebencian, dan rasa paling benar sendiri.

Karena itu, kurban sejatinya adalah latihan spiritual. Saat pisau menyentuh hewan kurban, sesungguhnya seorang mukmin sedang diuji: apakah ia juga siap memotong hawa nafsunya?

Khutbah Idul Adha tersebut juga memberikan kritik sosial yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini. Di tengah derasnya konflik keluarga, pertengkaran sosial, dan mudahnya manusia saling mencaci di media sosial, Idul Adha justru datang membawa pesan silaturahmi dan kelembutan hati.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa silaturahmi melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Namun hari ini, banyak hubungan rusak hanya karena ego. Orang lebih mudah menulis komentar kasar daripada mengirim doa. Lebih mudah menyebarkan kebencian daripada meminta maaf.

Padahal, salah satu tanda diterimanya ibadah bukan hanya rajin ritual, tetapi juga membaiknya hubungan antarmanusia.

Idul Adha seharusnya membuat manusia lebih lembut, bukan lebih keras. Lebih rendah hati, bukan lebih sombong. Lebih dekat kepada Allah, sekaligus lebih baik kepada sesama.

Dari madrasah Nabi Ibrahim, setidaknya ada tiga pelajaran besar yang harus dibawa pulang oleh umat Islam hari ini.

Pertama, hidup mulia bukan ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh keikhlasan amal dan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Nabi Ibrahim telah wafat ribuan tahun lalu, tetapi namanya tetap hidup hingga hari ini karena iman dan ketulusannya.

Kedua, kepasrahan kepada Allah adalah puncak kekuatan seorang mukmin. Bukan berarti tidak menangis ketika diuji, tetapi tetap percaya bahwa ketetapan Allah selalu lebih baik daripada kehendak manusia.

Ketiga, hati orang beriman harus bergantung kepada Allah, bukan kepada dunia. Sebab dunia bisa hilang kapan saja, sedangkan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Maka Idul Adha tahun ini seharusnya tidak berhenti pada gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Ia harus menjadi momentum revolusi hati. Momentum untuk memperbaiki tauhid, membersihkan jiwa, dan membangun kembali hubungan manusia dengan Allah dan sesama.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan Idul Adha bukan seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan seberapa besar ego yang berhasil ditundukkan.