Tahfizhdulido.com – Malam itu, Selasa, 28 April 2026, suasana di panggung Tasmi’ Akbar terasa berbeda dari biasanya. Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00 WIB, waktu yang bagi sebagian orang mungkin sudah terlalu larut untuk tetap terjaga. Namun tidak bagi mereka yang hadir di sana. Para santri, guru, orang tua, dan seluruh hadirin larut dalam suasana haru, bangga, sekaligus takzim menyaksikan satu momen yang tidak sekadar seremonial: bacaan terakhir Tasmi’ Akbar dari Ananda Bardan Nuran Hairafasha.

Dari juz pertama hingga juz ke-30, rangkaian panjang itu telah dilalui dengan penuh kesungguhan. Bukan perjalanan singkat, melainkan proses panjang yang dipenuhi jatuh bangun, disiplin, dan ketekunan yang tidak semua orang mampu menjalaninya. Maka wajar jika malam itu bukan sekadar penutup, melainkan puncak dari perjuangan yang senyap namun monumental.

Dalam sambutannya, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia tidak hanya melihat keberhasilan sebagai capaian individu, tetapi sebagai hasil dari ekosistem perjuangan: santri, orang tua, guru, dan seluruh pihak yang terlibat. Ucapan terima kasihnya mengalir panjang, terutama kepada para santri akhir—Nihai dan Nihaiyat—yang telah menempuh proses luar biasa hingga sampai pada titik ini.

Namun yang menarik, apresiasi itu tidak berhenti pada formalitas. Ia justru mengajak hadirin untuk melihat lebih dalam: bahwa tidak semua orang mampu berada di posisi tersebut. Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga spiritual dan emosional yang menuntut konsistensi tingkat tinggi. Di balik kelancaran yang terlihat, ada perjuangan yang sering kali tidak tampak.

Salah satu momen paling mengena dalam sambutan itu adalah ketika ia menyinggung sosok Bardan secara personal. Dengan gaya yang santai namun tajam, ia mengungkap bahwa jika dilihat sekilas, Bardan mungkin tidak mencerminkan stereotip “santri ideal”. Bahkan, dengan jujur ia menyebut bahwa Bardan pernah hampir dikeluarkan karena beberapa pelanggaran, termasuk kasus penggunaan handphone.

Pernyataan itu bukan untuk merendahkan, melainkan justru untuk membuka mata banyak orang: bahwa penilaian kita sering kali terlalu dangkal. Kita mudah terjebak pada tampilan luar—gaya, sikap, atau kesan pertama—tanpa benar-benar memahami kedalaman seseorang.

Di sinilah muncul analogi yang kuat dan menggugah: “bad boy yang menyamar.” Sebuah metafora yang menggambarkan bahwa di balik sikap santai, cuek, atau bahkan dianggap ‘bermasalah’, bisa jadi tersimpan potensi luar biasa. Bahkan lebih jauh, ia menyebut para penghafal Al-Qur’an sebagai “CEO yang menyamar”—sebuah ungkapan yang sarat makna.

Maknanya jelas: mereka memiliki “kerajaan” yang belum ditampakkan, “mahkota” yang belum dikenakan. Kemuliaan itu bukan sesuatu yang harus dipamerkan di dunia. Ia akan datang pada waktunya, tanpa perlu diminta, tanpa perlu ditunjukkan.

Dalam perspektif ini, Tasmi’ Akbar bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang. Bahkan disebut sebagai “kulik-kulik”—sekadar serpihan kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sebab yang utama bukanlah seremoni di dunia, melainkan bagaimana Al-Qur’an itu sendiri kelak menjadi saksi dan pemberi syafaat di hadapan Allah.

Pesan ini menjadi sangat penting, terutama di era sekarang, ketika pencapaian sering kali diukur dari pengakuan publik. Sertifikat, panggung, dokumentasi—semuanya menjadi tolok ukur keberhasilan. Padahal, dalam konteks Al-Qur’an, ukuran sejatinya justru terletak pada relasi personal antara manusia dan Kalam Ilahi tersebut.

Lebih jauh, ia juga menyinggung tentang pentingnya kesadaran internal. Bahwa setelah proses hafalan selesai, tidak perlu selalu diawasi atau dipaksa untuk menjaga interaksi dengan Al-Qur’an. Keyakinannya sederhana namun kuat: siapa pun yang telah benar-benar menyatu dengan Al-Qur’an, akan dengan sendirinya mempertanggungjawabkan hubungannya tanpa harus diingatkan.

Pengalaman dengan para alumni menjadi bukti. Ada yang terlihat biasa saja, tidak aktif dalam laporan formal, namun ternyata memiliki kedekatan yang intens dengan Al-Qur’an. Sekali lagi, realitas ini menegaskan bahwa yang tampak tidak selalu mencerminkan yang sebenarnya.

Di sisi lain, momen ini juga menjadi pembelajaran berharga bagi para santri yang masih berada di tahap awal. Bagi mereka, khususnya santri kelas satu, pengalaman menyaksikan Tasmi’ Akbar menjadi titik awal untuk membangun imajinasi dan cita-cita. Mereka mulai membayangkan: suatu saat nanti, mereka juga akan berada di posisi yang sama—atau bahkan lebih.

Proses ini tidak instan. Ia berkembang dari sekadar hafalan menjadi kualitas bacaan, dari kemampuan menyimak satu juz hingga puluhan juz, hingga akhirnya mencapai kesempurnaan 30 juz. Semua itu dimulai dari satu langkah kecil: niat dan konsistensi.

Tidak kalah penting, penghargaan juga diberikan kepada para panitia, musyrif, dan seluruh pihak yang bekerja di balik layar. Mereka mungkin tidak tampil di panggung, tetapi peran mereka krusial dalam memastikan acara berjalan lancar. Dari awal hingga akhir, kerja kolektif ini menjadi bukti bahwa keberhasilan bukanlah hasil individu semata.

Menjelang penutup, suasana kembali hening ketika disebutkan bahwa dunia di luar sana tidak selalu baik-baik saja. Disinggung sebuah musibah kecelakaan besar yang menelan banyak korban jiwa, mengingatkan bahwa kehidupan ini penuh ketidakpastian. Dalam konteks itu, keberadaan Al-Qur’an menjadi semakin relevan sebagai pegangan hidup.

Sambutan Singkat Wali Santri

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua Ananda Bardan, Bapak Sunara, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pesantren, khususnya para pengasuh, ustadz, dan musyrif yang telah membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan para santri dalam menghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari peran besar para guru yang membersamai proses panjang tersebut.

Dalam pesannya, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang dijaga keasliannya, dan para penghafal Al-Qur’an merupakan bagian dari perantara penjagaan tersebut. Karena itu, ia berharap para santri tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hidup mereka.

Selain itu, ia memberikan semangat kepada santri yang belum mencapai target hafalan agar tidak berkecil hati. Menurutnya, proses bersama Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan istiqamah. Apa yang belum tercapai hari ini, bisa jadi merupakan keberhasilan yang tertunda di masa mendatang.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan para pendiri dan guru pesantren agar senantiasa diberikan keberkahan, serta berharap pesantren terus berkembang dalam melahirkan generasi yang ahli dzikir, ahli fikir, dan ahli Al-Qur’an.

Akhirnya, malam itu ditutup dengan penuh khidmat. Bukan hanya sebagai penanda berakhirnya sebuah acara, tetapi sebagai pengingat bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. Tasmi’ Akbar mungkin telah usai, tetapi tanggung jawab terhadap Al-Qur’an akan terus berjalan—hingga akhir hayat.

Dari panggung sederhana itu, tersampaikan pesan besar: jangan pernah meremehkan proses, jangan mudah menilai dari tampilan, dan jangan lupa bahwa kemuliaan sejati sering kali tidak terlihat. Karena bisa jadi, di antara mereka yang tampak biasa saja, tersimpan mahkota yang kelak akan bersinar di hadapan Tuhan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag