Tahfizhdulido.com – Sabtu malam, 18 April 2026, Lapangan Pesantren menjadi saksi penutupan rangkaian kegiatan karnaval yang telah berlangsung hampir sepekan. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini tidak hanya menjadi penutup seremonial, tetapi juga momentum refleksi bagi seluruh santri atas perjalanan kreativitas yang telah mereka lalui. Dengan menghadirkan Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C sebagai pengisi utama, suasana malam itu terasa lebih bermakna—menggabungkan semangat berkarya dengan kedalaman nilai spiritual.

Kegiatan karnaval tahun ini menjadi sesuatu yang istimewa. Untuk pertama kalinya diselenggarakan dalam masa khidmat Ostada 2025–2026, karnaval ini berhasil menghadirkan warna baru dalam dinamika kehidupan pesantren. Selama kurang lebih satu pekan, para santri terlibat dalam berbagai perlombaan yang mengasah kreativitas, baik dalam bidang seni maupun bahasa. Gelak tawa, semangat kompetisi, hingga ekspresi seni yang beragam menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya ruang belajar yang serius, tetapi juga ruang tumbuh yang menyenangkan.

Dalam sambutannya, Ust. Tubagus Bay Amri Hakim mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran dan kemeriahan acara tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan karnaval ini bukan hanya dilihat dari antusiasme peserta, tetapi juga dari nilai yang terkandung di dalamnya. “Ini adalah langkah awal yang baik. Karnaval ini diharapkan menjadi tradisi yang terus berlanjut, menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun karakter santri,” ujarnya.

Lebih jauh, beliau menekankan bahwa karnaval bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah untuk mengekspresikan potensi yang telah diasah selama di pesantren. Seni dan bahasa yang ditampilkan para santri mencerminkan bahwa Islam memiliki wajah yang indah dan penuh estetika. Namun, di balik gemerlap kreativitas tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: hakikat keindahan yang sejati berasal dari Allah SWT.

Pesan penting yang disampaikan adalah tentang sikap rendah hati dalam berprestasi. Setiap pencapaian, sekecil apapun, sejatinya adalah karunia dari Allah. Bakat, kemampuan, dan hafalan yang dimiliki santri bukanlah hasil usaha semata, tetapi juga bentuk anugerah yang harus disyukuri. Karena itu, prestasi tidak seharusnya melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran akan tanggung jawab untuk terus bersyukur.

“Kelebihan adalah ujian,” ungkap beliau. Kalimat sederhana ini mengandung makna mendalam. Dalam dunia yang sering kali mengukur keberhasilan dari pencapaian lahiriah, pesan ini mengingatkan bahwa nilai sejati seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi kelebihan tersebut. Apakah ia menjadi lebih dekat kepada Allah, atau justru terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan.

Selain itu, para santri juga didorong untuk terus berkarya dan berdakwah melalui cara yang santun dan menarik. Dunia luar, menurut beliau, sedang menanti kontribusi generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak. Kreativitas yang telah diasah di pesantren harus menjadi bekal untuk mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai Islam yang indah dan menenangkan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyinggung sebuah fenomena menarik yang sempat viral di media sosial. Seorang peserta dalam sebuah ajang di Timur Tengah mampu menjawab setiap pertanyaan juri dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari fenomena ini, beliau memperkenalkan konsep balaghah yang dikenal dengan istilah iqtibas. Secara bahasa, iqtibas berarti “mengambil cahaya” atau “menyulut api”. Dalam konteks literasi, iqtibas adalah gaya bahasa yang menyisipkan potongan ayat Al-Qur’an atau hadis ke dalam kalimat, baik dalam pidato, puisi, ceramah, maupun tulisan. Seni ini menunjukkan betapa indahnya ketika wahyu menjadi bagian dari komunikasi manusia.

Iqtibas bukan sekadar teknik bahasa, tetapi juga bentuk kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an. Ketika ayat-ayat suci mampu hadir secara alami dalam percakapan, itu menandakan bahwa Al-Qur’an telah hidup dalam hati dan pikiran. Inilah yang diharapkan dari para santri: tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga menghidupkan nilai-nilainya dalam setiap aspek kehidupan.

Penutupan karnaval malam itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar akhir acara. Ia menjelma menjadi ruang perenungan bersama. Bahwa di balik kemeriahan, ada tanggung jawab. Di balik kreativitas, ada nilai spiritual. Dan di balik setiap pencapaian, ada amanah yang harus dijaga.

Karnaval ini telah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pusat lahirnya generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga kreatif dan adaptif. Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, menjadi tradisi yang memperkuat identitas santri sebagai insan yang berilmu, berakhlak, dan berkarya.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag