Tahfizhdulido.com – Pada Sabtu malam, 7 Maret 2026, suasana Masjid Al-Maktoum dipenuhi oleh ratusan santri yang berkumpul untuk mengikuti kegiatan Kuliah Etiket. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C sebagai pengisi utama. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh santri dan menjadi salah satu momen penting menjelang masa libur Ramadan dan Idulfitri di lingkungan pesantren.
Kuliah etiket ini bukan sekadar pengingat tentang tata krama keseharian santri. Dalam penyampaiannya, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim mengajak para santri untuk melihat etika secara lebih luas—bukan hanya dalam hubungan antarindividu, tetapi juga dalam menyikapi situasi dunia yang sedang bergejolak.
Ramadan, Doa, dan Harapan Santri
Acara diawali dengan pembacaan hamdalah, salawat, dan doa pembuka. Dalam sambutannya, Dr. Bay Amri Hakim mengingatkan bahwa malam-malam di bulan Ramadan adalah waktu yang penuh harapan bagi umat Islam. Banyak orang menanti datangnya malam-malam istimewa yang dijanjikan Allah, terutama malam Lailatul Qadar yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia adalah ruang harapan, ruang doa, dan ruang perbaikan diri,” ujarnya di hadapan para santri.
Namun di tengah suasana spiritual Ramadan, ia juga mengajak para santri untuk tidak menutup mata terhadap realitas dunia yang sedang mengalami banyak konflik dan ketegangan.
Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja
Dalam kuliah tersebut, Dr. Bay Amri Hakim menyinggung kondisi geopolitik global yang menurutnya sedang memanas. Ia menjelaskan bahwa konflik internasional bukan sekadar isu politik yang jauh dari kehidupan santri, tetapi memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di berbagai negara.
Perang, embargo ekonomi, serta ketegangan antarnegara dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah potensi terganggunya jalur distribusi energi dunia apabila jalur perdagangan strategis terganggu oleh konflik.
“Perang bukan hanya urusan negara yang bertikai. Dampaknya bisa sampai ke dapur rumah tangga masyarakat di berbagai negara,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, santri harus memiliki kesadaran global, tetapi tetap menyikapinya dengan bijak, tidak emosional, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Etika Santri di Era Informasi
Salah satu poin penting dalam kuliah etiket tersebut adalah tentang etika bermedia sosial. Dr. Bay Amri Hakim menekankan bahwa perkembangan teknologi digital membuat informasi menyebar dengan sangat cepat, tetapi tidak semuanya dapat dipercaya.
Santri, menurutnya, harus memiliki kemampuan untuk menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
“Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Apalagi dalam situasi konflik global yang sangat sensitif,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa penyebaran informasi yang tidak akurat dapat memicu fitnah, memperkeruh suasana, bahkan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Karena itu, sikap hati-hati dalam bermedia sosial menjadi bagian penting dari etika santri di era digital.
Liburan: Waktu Mengamalkan Ilmu
Kuliah etiket tersebut juga menjadi momen untuk memberikan arahan kepada para santri menjelang masa liburan Ramadan dan Idulfitri. Menurut Dr. Bay Amri Hakim, liburan bukan berarti berhenti belajar, melainkan kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari di pesantren.
Salah satu bentuk pengamalan ilmu tersebut adalah melalui pengabdian kepada orang tua.
Ia mengajak para santri untuk pulang ke rumah dengan membawa sikap yang menggembirakan hati orang tua, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah.
“Kalau bisa, pulanglah dengan sikap yang meringankan beban orang tua. Tidak perlu menuntut banyak hal,” ujarnya.
Ia bahkan memberi contoh sederhana, seperti tidak meminta pakaian baru saat Lebaran atau membantu pekerjaan rumah tanpa harus diminta.
Hal-hal kecil seperti itu, menurutnya, merupakan bentuk nyata dari akhlak seorang santri.
Kesederhanaan sebagai Nilai Utama
Selain berbakti kepada orang tua, para santri juga diingatkan untuk menjaga sikap sederhana di tengah masyarakat. Perayaan Idulfitri seharusnya tidak menjadi ajang pamer kemewahan, melainkan momentum untuk memperkuat rasa syukur.
“Lebaran cukup dirayakan dengan kebahagiaan dan kesederhanaan. Tidak perlu berlebihan,” tegasnya.
Ia berharap para santri dapat menjadi teladan di lingkungan masing-masing, terutama dalam menjaga adab, kesederhanaan, dan ketenangan di tengah masyarakat.
Disiplin dan Tanggung Jawab Santri
Dalam kesempatan yang sama, pihak pesantren juga menyampaikan sejumlah informasi penting terkait jadwal libur Ramadan dan Idulfitri serta aturan kedatangan kembali ke pesantren.
Santri diwajibkan pulang sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pihak pesantren. Demikian pula dengan jadwal kedatangan kembali, yang telah diatur secara khusus untuk memastikan ketertiban dan kedisiplinan seluruh santri.
Pesantren juga menegaskan bahwa santri yang datang terlambat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Aturan ini dibuat bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi untuk menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab sebagai bagian dari pendidikan karakter di pesantren.
Pesan tentang Etika Bertanya
Dalam kuliah tersebut, Dr. Bay Amri Hakim juga menyinggung pentingnya etika dalam bertanya. Ia mengingatkan bahwa pertanyaan yang diajukan oleh santri harus tetap menjaga adab dan rasa hormat terhadap lembaga serta para pengelolanya.
Menurutnya, bertanya adalah hal yang baik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tepat, waktu yang tepat, serta dengan niat yang baik.
“Santri harus belajar bukan hanya ilmu, tetapi juga cara bertanya yang beradab,” ujarnya.
Santri sebagai Penjaga Nilai
Di akhir kuliah etiket, Dr. Bay Amri Hakim menegaskan bahwa santri memiliki peran penting di tengah masyarakat. Mereka bukan hanya pelajar yang mempelajari ilmu agama, tetapi juga calon pemimpin yang diharapkan mampu menjaga nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, ia berharap para santri dapat menjadi generasi yang memiliki empati, kepedulian, dan akhlak yang kuat.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Dalam doa tersebut, para santri memohon perlindungan Allah bagi umat manusia, bagi para korban konflik di berbagai belahan dunia,
serta bagi keluarga mereka masing-masing.
Doa juga dipanjatkan agar para santri yang pulang ke rumah dapat menjalani masa liburan dengan penuh keberkahan, tetap menjaga hafalan Al-Qur’an, serta kembali ke pesantren dengan semangat baru untuk menuntut ilmu.
Kuliah etiket malam itu pun berakhir dengan suasana yang khidmat. Bagi para santri, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa adab bukan sekadar pelajaran di kelas, tetapi prinsip hidup yang harus terus dijaga—di pesantren, di rumah, maupun di tengah dunia yang terus berubah.

