Tahfizhdulido.com – Apel Penilaian Tengah Semester (PTS) Genap yang digelar pada Senin, 2 Maret 2026 di lapangan utama menjadi momentum reflektif yang tidak biasa. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh guru pengabdian dan pengawas senior berkumpul dalam suasana Ramadhan yang khidmat. Apel ini dipimpin oleh Ust. Kasman Kurip, S.E., yang dalam amanatnya tidak sekadar berbicara soal teknis pengawasan ujian, tetapi mengajak seluruh peserta merenungkan makna niat, ujian hidup, dan integritas di hadapan Allah Swt.
Dengan salam pembuka dan ungkapan syukur, beliau mengingatkan bahwa kesempatan berkumpul di bulan Ramadhan adalah nikmat yang tak ternilai. “Semua ini tergantung niat,” tegasnya. Ramadhan disebut sebagai bulan penuh rahmat karena pahala dilipatgandakan. Namun, pelipatgandaan itu tidak otomatis. Ada dua syarat utama: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Syukur atas Hidayah dan Taufik
Ust. Kasman mengajak seluruh peserta apel untuk bersyukur karena masih diberi kesehatan, umur panjang, dan kesempatan beribadah. Ia mengingatkan bahwa banyak orang yang telah lebih dahulu wafat, yang jika diberi kesempatan satu hari saja di Ramadhan, rela menukarnya dengan seluruh harta dunia. Tetapi kesempatan itu tidak akan kembali.
Menariknya, beliau membedakan antara hidayah dan taufik. Hidayah adalah petunjuk Allah yang telah sampai kepada kita—melalui Al-Qur’an, hadis, dan nasihat para ulama. Namun taufik adalah kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan petunjuk tersebut. Tidak semua orang yang mengetahui kebenaran mampu melaksanakannya.
Contoh yang disampaikan sederhana tetapi menggugah: banyak orang tahu bahwa salat berjamaah di masjid bagi laki-laki memiliki keutamaan besar. Dalam hadis disebutkan pahalanya 27 derajat lebih tinggi dibanding salat sendirian. Tetapi tidak semua yang tahu itu mampu istiqamah melaksanakannya. Di sinilah taufik berperan.
Ilmu tanpa pengamalan tidak cukup. Dalam konteks PTS, pesan ini relevan: mengetahui aturan ujian tidaklah cukup; integritas dalam menjalankannya adalah kunci.
Ujian: Sunnatullah bagi Orang Beriman
Apel PTS ini juga menjadi ruang kontemplasi tentang hakikat ujian. Ust. Kasman menegaskan bahwa setiap manusia pasti diuji. Tidak ada orang beriman tanpa ujian. Bahkan, semakin tinggi derajat seseorang, semakin berat ujiannya.
Beliau menyinggung kisah Nabi Ayyub yang kehilangan harta dan anak-anaknya, serta diuji dengan penyakit berat. Meski demikian, Nabi Ayyub tetap sabar dan tidak meninggalkan ibadah. Ujian tidak menjadikannya jauh dari Allah, justru semakin dekat.
Demikian pula Nabi Muhammad yang sepanjang hidupnya menghadapi penolakan, pengusiran, dan peperangan. Para sahabat dan ulama setelahnya juga mengalami ujian berat. Imam Ahmad bin Hanbal misalnya, dipenjara dan dicambuk karena mempertahankan keyakinannya dalam peristiwa Mihnah. Namun keteguhan itu justru meninggikan derajatnya di sisi Allah.
Pesan yang ingin ditegaskan: ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan sarana peningkatan kualitas iman. Dalam konteks pendidikan, PTS adalah ujian akademik bagi siswa, tetapi juga ujian moral bagi guru dan pengawas. Apakah kita akan menjalankan amanah dengan jujur? Ataukah tergoda untuk mengabaikan tanggung jawab?
Dunia Hanya Sementara
Dalam amanatnya, Ust. Kasman juga mengingatkan tentang kefanaan dunia. Hidup di dunia sangat singkat dibanding kehidupan akhirat. Banyak orang mengira bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, padahal justru awal dari pertanggungjawaban.
Beliau mengingatkan bahwa ajal adalah rahasia Allah. Tiga hal yang dirahasiakan: kapan seseorang meninggal, di mana ia meninggal, dan bagaimana cara ia meninggal. Karena itu, setiap detik kehidupan harus diisi dengan kesiapan.
Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun kesadaran spiritual. Seorang pengawas ujian mungkin merasa tugasnya rutin dan administratif. Namun jika dikerjakan dengan niat ibadah, ia menjadi amal jariyah. Sebaliknya, jika disertai kelalaian atau kecurangan, ia menjadi beban di akhirat.
Realitas Ujian di Sekitar Kita
Beliau juga menyinggung berbagai ujian yang menimpa umat manusia: bencana alam, konflik, dan kesulitan ekonomi. Semua itu menjadi pengingat bahwa nikmat keamanan dan kecukupan yang dirasakan saat ini harus disyukuri.
Di tengah dunia yang tidak pasti, stabilitas dan kedamaian adalah karunia besar. Namun ketenangan itu bukan jaminan tanpa ujian. Karena itu, kesiapan mental dan spiritual menjadi penting.
PTS hanyalah satu bentuk ujian kecil dalam kehidupan pendidikan. Namun dari ujian kecil inilah karakter dibentuk. Disiplin waktu, kejujuran, tanggung jawab, dan ketegasan adalah nilai-nilai yang diuji bukan hanya pada siswa, tetapi juga pada para guru.
Integritas sebagai Cermin Ketakwaan
Salah satu pesan kuat dalam amanat tersebut adalah kesadaran bahwa manusia selalu diawasi Allah dan malaikat. Tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi. Kesadaran muraqabah—merasa diawasi—menjadi fondasi integritas.
Dalam konteks pengawasan ujian, integritas berarti tidak memberi celah pada kecurangan, tidak menoleransi manipulasi nilai, dan tidak mempermudah pelanggaran aturan demi alasan pragmatis. Tugas pengawas bukan sekadar menjaga ketertiban ruang ujian, tetapi menjaga marwah lembaga pendidikan.
Beliau juga mengingatkan pentingnya taubat. Tidak ada manusia tanpa dosa. Bahkan Rasulullah pun beristighfar puluhan kali dalam sehari. Apalagi kita. Namun yang membedakan adalah kesediaan untuk kembali dan memperbaiki diri.
PTS ini, dalam perspektif yang lebih luas, adalah momentum perbaikan. Bukan hanya bagi siswa untuk mengukur capaian belajar, tetapi bagi seluruh civitas untuk mengukur kualitas niat dan ketakwaan.
Menata Niat, Menjaga Amanah
Apel ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh rangkaian PTS berjalan lancar serta bernilai ibadah. Pesan yang tertinggal jelas: jangan hanya menambah ilmu, tetapi tambahkan ketakwaan. Jangan hanya mengejar capaian akademik, tetapi jaga akhlak dan integritas.
Ramadhan adalah bulan latihan spiritual. PTS adalah latihan tanggung jawab profesional. Ketika keduanya bertemu, lahirlah momentum pembentukan karakter.
Pada akhirnya, ujian terbesar bukanlah soal-soal yang dikerjakan siswa di atas kertas. Ujian terbesar adalah bagaimana kita menjalani amanah dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita jujur ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita tetap teguh ketika godaan datang?
Jika niat diluruskan dan amanah dijaga, maka setiap langkah di lapangan utama pagi itu bukan sekadar apel seremonial. Ia menjadi saksi bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai, tetapi tentang membangun manusia yang sadar akan Tuhannya dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.
Di tengah Ramadhan yang penuh rahmat, pesan itu terasa semakin kuat: ujian boleh datang silih berganti, tetapi integritas dan ketakwaan harus tetap berdiri tegak.