Tahfizhdulido.com – Kuliah Subuh yang disampaikan oleh Ust. Khalid Abdul Aziz, M.Pd pada Ahad, 1 Maret 2026 di Masjid Al-Maktoum berlangsung hangat dan penuh renungan. Sejak pukul 05.15 hingga selesai, seluruh santri mengikuti dengan khidmat tausiyah yang mengangkat tema sederhana namun menggugah: puasa dan cinta.
Di awal penyampaiannya, Ust. Khalid mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Ia menegaskan bahwa kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu adalah karunia yang tidak semua orang dapatkan. Shalawat dan salam pun dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, teladan utama dalam menapaki jalan penghambaan.
Namun inti pesan pagi itu terletak pada sebuah pertanyaan mendasar: benarkah puasa adalah bentuk “penyiksaan”? Bukankah saat puasa kita diperintahkan untuk menahan lapar, dahaga, dan berbagai keinginan? Jika Allah mencintai hamba-Nya, mengapa justru memerintahkan sesuatu yang terasa berat?
Menurut Ust. Khalid, anggapan bahwa puasa adalah siksaan muncul dari cara pandang yang keliru. Kata “menyiksa” hanyalah persepsi, bukan hakikat. Ia mengajak para santri menengok pengalaman awal ketika pertama kali mondok di pesantren. Bangun pagi sebelum subuh, shalat berjamaah, membersihkan lingkungan, disiplin waktu—semua itu mungkin terasa berat dan “menyiksa” di awal.
Bayangkan seorang anak yang terbiasa bangun pukul sepuluh pagi di rumah. Ketika harus bangun sebelum fajar, tentu tubuh dan batinnya terasa terpaksa. Namun seiring waktu, rutinitas itu membentuk karakter. Bangun subuh menjadi kebiasaan. Disiplin menjadi budaya. Kebersihan menjadi kesadaran, bukan paksaan.
Apa yang awalnya terasa berat, ternyata justru menjadi bekal hidup yang berharga.
“Persis seperti itu pula puasa,” tegasnya.
Dalam Al-Qur’an terdapat kata kutiba—diwajibkan atas kalian berpuasa. Kata itu bukan sekadar perintah, melainkan penegasan bahwa Allah mengetahui manfaat puasa bagi hamba-Nya. Baik manfaat jasmani maupun rohani.
Secara fisik, puasa memberi kesempatan tubuh untuk beristirahat. Sistem pencernaan yang biasanya bekerja tanpa henti mendapatkan jeda. Banyak penelitian modern bahkan menunjukkan bagaimana puasa membantu proses detoksifikasi alami tubuh. Racun-racun dikeluarkan, metabolisme diperbaiki, dan tubuh menjadi lebih seimbang.
Namun manfaat terbesar justru terletak pada dimensi rohani. Puasa melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kepekaan batin. Kita belajar menahan diri dari yang halal—makan dan minum—apalagi dari yang haram. Di sinilah puasa menjadi sekolah karakter yang paling efektif.
Menariknya, Ust. Khalid menyoroti kata “menahan” dalam puasa. Biasanya perintah identik dengan melakukan sesuatu. Tetapi dalam puasa, justru kita diperintahkan untuk tidak melakukan. Tidak makan. Tidak minum. Tidak berkata buruk. Tidak menggunjing.
Sebuah paradoks yang indah.
Kita dilatih untuk mengendalikan diri, bukan mengikuti setiap dorongan nafsu. Menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain. Menahan amarah. Menahan ego. Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan latihan cinta.
Cinta yang bagaimana?
Cinta yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita sedang menjalani proses pendidikan dari Allah. Sebelum berpuasa, kita dianjurkan untuk sahur. Bahkan sahur disunnahkan untuk diakhirkan. Artinya, seorang yang ingin menjalankan puasa dengan optimal akan bangun lebih awal, mungkin menunaikan tahajud, membaca Al-Qur’an, lalu makan sahur menjelang fajar.
Proses itu penuh nilai. Ia mengajarkan kedisiplinan, kesungguhan, dan kesadaran spiritual.
Kemudian datang waktu imsak—menahan diri. Bukan hanya dari makanan, tetapi dari segala hal yang merusak makna puasa. Hingga akhirnya tiba saat berbuka. Ketika azan Maghrib berkumandang, kita dianjurkan untuk segera membatalkan puasa. Tidak perlu menunda-nunda.
Semua itu adalah rangkaian pembelajaran. Belajar menunggu waktu. Belajar patuh pada aturan. Belajar menikmati secukupnya.
“Puasa adalah latihan cinta,” ujar Ust. Khalid.
Ia menegaskan bahwa dasar puasa adalah cinta Allah kepada hamba-Nya. Prosesnya dipenuhi cinta. Dan hasilnya pun melahirkan pribadi yang penuh cinta.
Orang yang bertakwa, yang menjadi tujuan akhir dari puasa, adalah pribadi yang batinnya lembut dan penuh kasih. Ia tidak mudah menyakiti. Tidak ringan mencela. Tidak gemar merendahkan. Karena ia telah ditempa oleh proses panjang pengendalian diri.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk jiwa yang matang. Jiwa yang mampu mencintai dengan benar—mencintai Allah, mencintai sesama, dan bahkan mencintai dirinya sendiri dengan cara yang sehat.
Di akhir tausiyah, Ust. Khalid meninggalkan dua pesan sederhana namun kuat.
Pertama, “Puasalah, maka kalian akan dicintai oleh Allah.”
Kedua, “Cintailah dirimu sebelum mencintai orang lain.”
Pesan kedua ini tak kalah penting. Bagaimana mungkin seseorang mampu mencintai orang lain jika ia belum mampu mendidik dan memperbaiki dirinya? Puasa menjadi sarana untuk berdamai dengan diri sendiri—mengatur pola hidup, menenangkan emosi, dan membersihkan hati.
Dari sanalah cinta sejati bermula.
Kuliah subuh itu ditutup dengan doa kafaratul majelis. Namun pesan tentang puasa sebagai bahasa cinta Tuhan terasa masih menggema di hati para santri. Ramadan bukan lagi sekadar bulan menahan lapar, melainkan bulan pembuktian cinta—bahwa Allah mencintai hamba-Nya dengan mendidiknya, dan hamba membalas cinta itu dengan ketaatan.
Maka, ketika rasa lapar datang, jangan terburu-buru menyebutnya siksaan. Bisa jadi, itu adalah cara Allah memeluk kita—melalui proses yang membentuk, menguatkan, dan pada akhirnya, memuliakan.