Tahfizhdulido.com – Suasana Lapangan Utama pada 26 Februari 2026 terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30, seluruh santri dan dewan guru telah berkumpul untuk mengikuti Pembukaan Penilaian Tengah Semester (PTS) Genap Tahun Ajaran 2025–2026. Kegiatan yang tampak seremonial ini justru menjadi momentum reflektif ketika Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C menyampaikan irsyadat wa taujihat yang menekankan satu hal penting: ujian bukan sekadar mengukur kemampuan, tetapi juga menguji cara menjaga amanah ilmu.
Dalam pengantarnya, beliau mengingatkan bahwa tradisi akademik di pesantren tidak boleh dipahami sebatas rutinitas administratif. Aturan ujian, kelengkapan kartu, dan tata tertib bukanlah beban teknis, melainkan bagian dari pendidikan karakter. Disiplin, ketertiban, dan kejujuran adalah fondasi yang menopang keberkahan proses belajar. Ujian, dengan demikian, adalah latihan integritas.
Namun, bagian paling kuat dari pesan pagi itu hadir melalui sebuah analogi yang sederhana tetapi mengena: sepak bola. Beliau mengajak santri membayangkan sebuah tim yang dipenuhi striker hebat, tetapi rapuh di lini pertahanan. Hasilnya hampir selalu sama—kekalahan. Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencetak gol, tetapi juga oleh kekuatan menjaga gawang.
Analogi ini kemudian diarahkan pada kehidupan santri penghafal Al-Qur’an. Dalam proses tahfizh, menambah hafalan baru sering kali menjadi kebanggaan. Target halaman, jumlah juz, dan capaian setoran menjadi ukuran yang kasat mata. Akan tetapi, menurut beliau, ada “lini belakang” yang kerap diabaikan: muraja’ah.
Muraja’ah, atau mengulang hafalan, diibaratkan sebagai penjaga gawang. Tanpanya, hafalan yang telah susah payah diraih dapat lepas perlahan. Santri mungkin tampak produktif menambah ayat, tetapi diam-diam kehilangan ayat lama. Fenomena ini tidak jarang terjadi—semangat menambah hafalan mengalahkan kesabaran menjaga hafalan.
Beliau mengutip peringatan Rasulullah ﷺ tentang betapa cepatnya Al-Qur’an dapat terlepas dari ingatan jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menggambarkan Al-Qur’an lebih cepat lepas dibanding unta yang terlepas dari ikatannya. Pesan ini bukan sekadar retorika religius, melainkan realitas psikologis: ingatan membutuhkan perawatan.
Menariknya, beliau juga menyoroti aspek bahasa dan sikap mental dalam menyikapi lupa. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menegur penggunaan ungkapan “aku lupa ayat ini dan itu.” Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan tersebut dapat mengandung kesan kelalaian, seakan-akan lupa adalah peristiwa netral tanpa tanggung jawab. Sebaliknya, seorang penghafal diajarkan untuk menyadari bahwa hilangnya hafalan sering kali berakar pada kurangnya penjagaan.
Dari sini, beliau merumuskan pesan moral yang tajam: jangan sampai bangga dengan banyaknya hafalan baru, tetapi rapuh dalam menjaga hafalan lama. Hafalan lama, tegasnya, justru lebih penting daripada sekadar mengejar target baru. Stabilitas lebih berharga daripada akselerasi.
Pesan ini terasa relevan dalam konteks PTS. Ujian bukan hanya tentang kemampuan menjawab soal, tetapi juga tentang konsistensi proses belajar. Santri yang menjaga ritme muraja’ah, mengulang pelajaran, dan merawat pemahaman biasanya lebih siap menghadapi evaluasi. Sebaliknya, mereka yang belajar secara sporadis sering kali terjebak dalam kecemasan menjelang ujian.
Selain dimensi akademik dan spiritual, beliau menyelipkan perhatian pada budaya keseharian santri. Salah satu isu yang diangkat adalah kebiasaan mencoret-coret fasilitas. Hal ini, menurut beliau, bukan perkara sepele. Lingkungan belajar mencerminkan kualitas sikap penghuninya. Meja, dinding, dan ruang kelas bukan sekadar benda mati, tetapi bagian dari amanah bersama.
Beliau menegaskan bahwa ekspresi diri adalah hal yang wajar, terutama bagi remaja. Akan tetapi, ekspresi harus menemukan medium yang tepat. Menyalurkan perasaan melalui catatan pribadi, jurnal, atau media kreatif jauh lebih bermartabat dibanding merusak fasilitas umum. Pesan ini mengandung pendidikan etika yang halus: kebebasan berekspresi tidak boleh mengorbankan tanggung jawab sosial.
Nada tausiyah pagi itu tidak menghakimi, tetapi mengajak berpikir. Disiplin bukan dipahami sebagai pembatasan, melainkan perlindungan. Tata tertib bukan ancaman, melainkan pagar yang menjaga proses tumbuh. Ujian bukan momok, tetapi cermin.
Pada akhirnya, Pembukaan PTS di Lapangan Utama bukan sekadar pembacaan prosedur akademik. Ia berubah menjadi ruang perenungan tentang makna belajar itu sendiri. Bahwa ilmu bukan hanya dikumpulkan, tetapi dijaga. Bahwa hafalan bukan hanya dikejar, tetapi dirawat. Bahwa keberhasilan bukan hanya soal kecepatan, tetapi ketahanan.
Pesan tentang “menjaga gawang” menjadi metafor yang kuat. Dalam belajar, dalam menghafal, bahkan dalam kehidupan, kehilangan sering kali tidak terjadi karena kurangnya kemampuan menyerang, tetapi lemahnya pertahanan. Muraja’ah, disiplin, dan kesadaran diri adalah penjaga gawang itu.
Ketika apel berakhir, santri tidak hanya membawa jadwal ujian, tetapi juga membawa pengingat yang lebih mendasar: setiap capaian menuntut penjagaan. Setiap amanah menuntut kesungguhan. Dan setiap proses belajar menuntut kesabaran yang panjang.
PTS pun dimulai, bukan sekadar sebagai evaluasi akademik, tetapi sebagai latihan menjaga integritas—di ruang kelas, di hafalan, dan di dalam diri.
