Tahfizhdulido.com – Pagi itu, udara masih menyimpan sisa dingin malam. Jam menunjukkan pukul 05.00, dan Masjid Al-Maktoum telah dipenuhi oleh para santri. Dalam suasana hening yang khas selepas Subuh, Ust. Bahra Ramadhani Kaligar, Lc., membuka majelis dengan salam dan ajakan yang sederhana namun menggetarkan: memulai hari dengan salawat kebahagiaan.
Mengapa salawat? Mengapa di pagi hari?
Ust. Bahra mengajak hadirin merenungi satu kata kunci: sa‘ādah — kebahagiaan. Salawat yang dilantunkan bukan sekadar pembuka acara, tetapi penegasan sikap batin. Pagi, kata beliau, seharusnya dimulai dengan rasa bahagia. Bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena kita masih diberi kesempatan bernapas, berkumpul, dan mengingat Allah di bulan yang mulia: Ramadhan.
Namun, kebahagiaan yang dimaksud bukanlah euforia kosong. Ia justru berangkat dari sesuatu yang sering terasa sunyi dan personal: rasa rindu.
“Siapa yang rindu orang tua?” tanya beliau.
“Siapa yang rindu pulang?”
“Siapa yang rindu HP, media sosial, atau bahkan seseorang yang spesial?”
Pertanyaan-pertanyaan itu memantik senyum, tawa kecil, sekaligus kejujuran yang sulit disangkal. Rindu adalah pengalaman universal. Ia hadir saat malam terasa panjang, saat lelah menumpuk, saat hati terasa ingin bersandar pada sesuatu. Tetapi di balik rasa rindu yang manusiawi itu, Ust. Bahra mengarahkan perhatian ke dimensi yang lebih dalam: ruh manusia.
Rindu sebagai Bahasa Ruh
Sering kali kita mengira rindu hanyalah gejolak emosi. Padahal, dalam perspektif spiritual, rindu bisa dibaca sebagai “bahasa” ruh. Ketika seseorang merasa hampa, kesepian, atau gelisah tanpa sebab yang jelas, boleh jadi itu bukan semata persoalan psikologis. Bisa jadi ruh sedang memberi isyarat.
Isyarat tentang apa?
Tentang sesuatu yang pernah sangat dekat, tetapi kini terasa jauh.
Dalam khazanah Islam, terdapat satu fragmen teologis yang sangat terkenal: peristiwa ketika Allah bertanya kepada ruh manusia, “Alastu bi rabbikum?” — Bukankah Aku ini Tuhanmu? Dan ruh menjawab, “Bala.” Ya, kami bersaksi.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah metafisik. Ia adalah fondasi kesadaran tauhid. Bahwa sebelum manusia hadir sebagai tubuh dengan mata, telinga, dan identitas sosial, ada dimensi ruhani yang telah lebih dahulu mengenal Allah. Lalu, pertanyaan yang sering muncul: jika memang pernah ada perjanjian itu, mengapa kita tidak mengingatnya?
Jawaban yang ditawarkan bukanlah penjelasan filosofis yang rumit, melainkan refleksi eksistensial. Kita memang tidak mengingat secara literal, tetapi jejaknya mungkin masih hidup dalam bentuk kerinduan yang samar — kerinduan akan makna, ketenangan, dan sesuatu yang tak dapat sepenuhnya dipuaskan oleh dunia.
Ketika Dunia Menjadi Tirai
Manusia hidup dengan pancaindra. Kita mencintai apa yang terlihat, terdengar, dan terasa. Kita mudah terpikat pada hal-hal konkret: keindahan wajah, kecanggihan teknologi, kenyamanan materi, pengakuan sosial.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalah muncul ketika yang sementara mulai menutupi yang abadi.
Ust. Bahra mengingatkan bahwa pancaindra, meski penting, juga berpotensi menjadi tirai. Kita terlalu sibuk dengan apa yang tampak, hingga lupa pada sumber dari segala keindahan itu sendiri.
Ketika melihat bunga, misalnya, jarang kita berhenti pada perenungan bahwa keindahan tersebut adalah tanda dari Dzat Yang Maha Indah. Ketika merasakan kebaikan orang lain, sering kali kita berhenti pada sosoknya, bukan pada Allah sebagai sumber segala kebaikan.
Dunia, dengan segala pesonanya, dapat membuat manusia lupa arah. Bukan karena dunia itu jahat, tetapi karena hati manusia mudah lengah.
Di sinilah peran ruh menjadi penting. Pancaindra perlu “dibimbing” oleh kesadaran ruhani. Dan salah satu jalannya adalah zikir — menghadirkan Allah dalam cara pandang kita terhadap realitas.
Bukan sekadar mengucap, tetapi merasakan bahwa hidup ini berlangsung dalam pengawasan dan kasih sayang-Nya.
Dua Jalan Menuju Allah: Cinta dan Penghambaan
Bagaimana menjaga agar hati tidak sepenuhnya terseret oleh dunia?
Ust. Bahra menawarkan dua pendekatan yang saling melengkapi: cinta dan penghambaan.
Pertama, cinta. Hubungan dengan Allah tidak cukup dibangun di atas rasa takut semata. Ia memerlukan rasa rindu, rasa ingin dekat, rasa bahagia saat mengingat-Nya. Cinta membuat ibadah terasa hidup, bukan beban.
Namun cinta saja tidak cukup.
Di sinilah pendekatan kedua: penghambaan. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk lemah, rentan salah, dan penuh keterbatasan. Rasa ini melahirkan kerendahan hati, kejujuran, dan kebutuhan untuk selalu kembali kepada Allah. Tanpa penghambaan, cinta berisiko menjadi ilusi romantik. Tanpa cinta, penghambaan bisa berubah menjadi rutinitas kering. Keseimbangan keduanya melahirkan spiritualitas yang sehat: mencintai Allah dengan penuh rindu, sekaligus menyadari diri sebagai hamba yang terus belajar.
Jangan Salah Menempatkan Cinta
Salah satu peringatan paling relevan dari tausiah pagi itu adalah tentang hierarki cinta. Manusia wajar mencintai banyak hal: orang tua, sahabat, pasangan, harta, cita-cita. Islam tidak menuntut manusia menjadi makhluk tanpa rasa.
Tetapi ada satu prinsip yang tak boleh goyah: jangan sampai cinta kepada apa pun melebihi cinta kepada Allah.
Ini bukan sekadar slogan moral, melainkan kompas eksistensial. Ketika cinta dunia menjadi pusat, kekecewaan mudah melumpuhkan. Ketika Allah menjadi pusat, kehilangan pun masih menyisakan makna.
Menariknya, Ust. Bahra tidak mendorong sikap ekstrem yang menolak cinta kepada sesama. Justru sebaliknya: jadikan cinta kepada makhluk sebagai jembatan menuju cinta kepada Sang Pencipta.
Menyukai keindahan? Ingat bahwa Allah Maha Indah.
Mengagumi kebaikan? Ingat bahwa Allah sumber kebaikan.
Mencintai seseorang? Biarkan cinta itu mengingatkan pada Allah.
Dosa, Cinta, dan Harapan
Bagian paling menyentuh dari tausiah itu hadir saat membahas relasi antara dosa dan cinta kepada Allah. Sebuah pertanyaan diajukan: apakah maksiat otomatis memutus kemungkinan seseorang mencintai Allah?
Jawaban yang diberikan tidak hitam-putih dan tidak menghakimi.
Dikisahkan tentang Nu‘ayman, seorang sahabat yang dikenal memiliki kelemahan serius: kecanduan khamr. Ia berkali-kali dihukum, berkali-kali jatuh pada kesalahan yang sama. Hingga suatu ketika, ada yang mencelanya.
Respons Nabi tegas sekaligus lembut: jangan melaknatnya. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Pesan ini bukan pembenaran dosa, melainkan pelajaran tentang kompleksitas manusia. Bahwa seseorang bisa bergulat dengan kelemahan, tetapi tetap menyimpan cinta dan iman di hatinya.
Bagi para santri — dan kita semua — ini adalah napas harapan. Bahwa perjalanan menuju Allah bukan milik mereka yang sempurna, tetapi mereka yang terus kembali.
Menghidupkan Janji yang Terlupa
Tausiah Subuh itu ditutup dengan ajakan sederhana namun mendasar: mengingat kembali janji ruh. Bahwa hidup bukan sekadar menjalani rutinitas, tetapi perjalanan pulang.
Kita tidak tahu kapan waktu kembali. Tetapi kita selalu punya pilihan tentang bagaimana mencintai, bagaimana merindukan, dan kepada siapa hati ini berpaut paling dalam.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah momentum membersihkan orientasi cinta. Menggeser pusat gravitasi hati dari yang fana menuju Yang Abadi.
Dan mungkin, di antara sunyi pagi, lantunan salawat, dan getaran rindu yang tak selalu kita pahami — ruh sedang berbisik pelan: Jangan lupa. Kita pernah mengenal-Nya.