Tahfizhdulido.com – Suasana sore itu terasa berbeda. Jarum jam menunjukkan pukul 16.15 ketika seluruh santri berkumpul di Masjid Al-Maktoum, menghadiri pembukaan kegiatan Tasyji’ Al-Qur’an. Acara yang diisi oleh Ust. Supriyadi, D.Phil. ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momentum reflektif: mengingatkan kembali untuk apa Al-Qur’an dihafal, dan bagaimana seharusnya ia hidup di dalam hati.
Dalam pembukaannya, beliau mengajak santri merenungi satu hal paling mendasar namun sering terlupakan: hidup, napas, kesehatan, dan kemampuan bukanlah milik manusia semata. Semua bergantung pada kehendak Tuhan. Pesan ini sederhana, tetapi menghantam kesadaran. Manusia kerap merasa memiliki kendali penuh atas dirinya, padahal bahkan untuk bernapas pun manusia sepenuhnya bergantung pada kuasa-Nya.
Dari titik ini, arah nasihat bergeser pada tema inti: hati. Menghafal Al-Qur’an, tegas beliau, bukan hanya perkara lisan dan ingatan. Hafalan yang tidak diiringi kesiapan hati berpotensi menjadi aktivitas mekanis, kering dari makna. Al-Qur’an bukan sekadar teks yang diulang, melainkan cahaya yang harus diterima. Dan cahaya hanya menetap pada wadah yang bersih.
Beliau kemudian menyinggung gambaran indah dalam Al-Qur’an tentang miskah — ceruk tempat pelita. Analogi ini menjadi kunci: santri diibaratkan sebagai misykat, sementara Al-Qur’an adalah cahaya. Jika hati tidak disiapkan, cahaya itu tidak akan memancar. Hafalan mungkin bertambah, tetapi pengaruhnya pada akhlak belum tentu tampak.
Di sinilah kritik halus namun tajam disampaikan. Tidak semua penghafal Al-Qur’an otomatis memancarkan nilai Al-Qur’an. Jika seseorang rajin menghafal tetapi masih gemar merendahkan orang lain, mudah menyakiti, atau ringan berprasangka buruk, maka persoalannya bukan pada hafalan, melainkan pada wadahnya. Hati belum benar-benar menjadi tempat bersemayamnya cahaya.
Pesan ini terasa relevan di tengah realitas pendidikan modern, di mana capaian kuantitatif sering lebih dihargai daripada transformasi kualitatif. Jumlah juz mudah diukur, tetapi kejernihan hati dan kematangan akhlak jauh lebih sulit ditakar. Tasyji’ Al-Qur’an hadir justru untuk menegaskan kembali orientasi yang benar: kualitas batin lebih utama daripada sekadar angka.
Beliau juga mengingatkan pentingnya niat. Menghafal Al-Qur’an tidak boleh didorong oleh tekanan eksternal semata — bukan karena takut kepada orang tua, bukan demi gengsi sosial, dan bukan sekadar mengejar pengakuan. Hafalan yang lahir dari niat rapuh mudah goyah. Sebaliknya, hafalan yang tumbuh dari keikhlasan akan melahirkan keteguhan.
Dalam penjelasannya, beliau mengaitkan hal ini dengan kepekaan seorang mukmin. Ketika hati bersih dan dekat dengan cahaya Ilahi, seorang mukmin memiliki kejernihan pandangan — bukan dalam arti mistis, tetapi dalam bentuk ketajaman nurani. Karena itu, santri diajak berhati-hati menjaga hati: apa yang disimpan di dalamnya akan memengaruhi cara melihat dan bersikap.
Acara pembukaan ini juga menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk membentuk cara hidup. Ia harus menuntun langkah, memengaruhi keputusan, dan menata sikap. Tanpa dimensi ini, hafalan berisiko kehilangan ruhnya, tinggal sebagai prestasi akademik belaka.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pembacaan pertama Juz 1 dilantunkan oleh Ananda Mohammad Sudaeish Al Jufi Basit (Santriwan Kelas 4B). Lantunan ayat yang menggema bukan sekadar pembuka acara, tetapi simbol dimulainya ikhtiar kolektif: menghidupkan Al-Qur’an tidak hanya di ingatan, tetapi di kesadaran.
Adapun santri yang mengikuti kegiatan Tasyji’ Al-Qur’an tahun ini adalah:
Santriwan (Putra):
- M. Ariq Musyaffa – Kelas 2 – 3 Juz
- M. Defandryan Nizam Abqary – Kelas 2 – 3 Juz
- Rifqi Nasyid Alfathien – Kelas 3 – 9 Juz
- Arifatul Hidayah – Kelas 3 INT – 3 Juz
- Mohammad Sudaeish Al Jufi Basit – Kelas 4 – 11 Juz
- Muhammad Azka Fairuz – Kelas 4 – 12 Juz
- Muhammad Hami Al Haqq – Kelas 4 – 5 Juz
- Dziaulhaq Nabil Ramadhan – Kelas 5 – 8 Juz
- Muhammad Hafidz Nurrohman – Kelas 5 – 11 Juz
- Muhammad Ezar Firjatullah – Kelas 5 – 8 Juz
Santriwati (Putri):
- Adna Fika Syaqifah – Kelas 4 – 5 Juz
- Nazwa Alya Mukhlita Saka – Kelas 4 – 8 Juz
- Kayyisah Buraira Ginanti – Kelas 5 – 6 Juz
- Asyifa Fajarika – Kelas 5 – 6 Juz
- Aulia Putri Cahyani – Kelas 5 – 8 Juz
- Indah Listya – Kelas 5 – 8 Juz
- Dinda Febriana – Kelas 5 – 8 Juz
- Fanny Luthfia – Kelas 5 – 8 Juz
- Arizka Maulida Valencia – Kelas 5 – 8 Juz
- Balqis Aqila Wibowo – Kelas 5 – 10 Juz
Di penghujung tausiyahnya, Ust. Supriyadi menutup dengan doa dan harapan: semoga kegiatan Tasyji’ menjadi ruang pemurnian niat, penguatan tekad, dan penjernihan hati. Karena pada akhirnya, keberuntungan seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya diukur dari seberapa banyak ayat yang diingat, tetapi seberapa dalam cahaya Al-Qur’an menerangi hidupnya. dengan demikian, bukan sekadar agenda. Ia adalah undangan untuk menata ulang relasi dengan Al-Qur’an: dari hafalan menuju penghayatan, dari rutinitas menuju kesadaran, dari suara menuju cahaya.
