Tahfizhdulido.com – Kajian Subuh di Masjid Al-Maktoum pagi itu terasa berbeda. Udara masih dingin, namun barisan santri sudah memenuhi ruang utama dengan wajah-wajah yang menyiratkan kesiapan. Kajian yang disampaikan oleh Ust Ahmad Muhafizh, Lc. dihadiri oleh seluruh santri Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido, menghadirkan suasana yang khusyuk sekaligus reflektif. Tema yang diangkat sederhana, tetapi menghunjam: delapan perkara sia-sia menurut Imam Ali bin Abi Thalib.

Tema tentang “kesia-siaan” mungkin terdengar keras. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia mengusik kebiasaan, menggugat rutinitas, dan memaksa setiap pendengar untuk bertanya: jangan-jangan, tanpa sadar, hidup kita dipenuhi hal-hal yang tak bernilai.

Dalam pemaparannya, kajian ini tidak sekadar mengutip nasihat klasik, tetapi mengaitkannya dengan realitas kehidupan modern. Dunia hari ini adalah dunia yang bising, cepat, dan sering kali menipu persepsi. Banyak hal tampak penting, padahal hakikatnya kosong. Banyak aktivitas menyita energi, tetapi minim makna.

Salah satu perkara sia-sia yang disorot adalah ilmu tanpa amal. Pengetahuan, setinggi apa pun, kehilangan nilai ketika tidak membuahkan perubahan. Di era digital, akses terhadap ilmu begitu mudah. Ceramah, buku, dan diskusi tersedia tanpa batas. Namun ironi muncul ketika ilmu hanya berhenti sebagai konsumsi intelektual. Kita tahu banyak, tetapi berubah sedikit. Kita hafal konsep, tetapi miskin implementasi.

Ilmu sejatinya adalah cahaya yang menuntun tindakan. Tanpa amal, ia hanya menjadi beban. Lebih jauh lagi, ia dapat melahirkan ilusi kesalehan—merasa sudah baik hanya karena memahami kebaikan. Padahal ukuran sejati bukan pada apa yang diketahui, melainkan pada apa yang dijalani.

Perkara sia-sia berikutnya adalah amal tanpa keikhlasan. Ini jebakan yang lebih halus. Seseorang tampak aktif, produktif, bahkan religius, tetapi motivasi di baliknya rapuh. Amal yang kehilangan keikhlasan ibarat bangunan megah di atas pasir. Ia berdiri, tetapi tak kokoh.

Keikhlasan bukan sekadar niat tersembunyi; ia adalah fondasi spiritual yang menentukan arah dan nilai suatu perbuatan. Tanpa keikhlasan, amal mudah berubah menjadi pencitraan, kompetisi sosial, atau sekadar rutinitas mekanis. Dari luar tampak hidup, tetapi di dalamnya kosong.

Kajian ini juga menyinggung harta tanpa keberkahan. Dalam kehidupan modern, harta sering dipahami semata sebagai angka dan kepemilikan. Padahal dalam perspektif spiritual, nilai harta tidak hanya terletak pada jumlahnya, tetapi pada dampaknya. Apakah ia mendekatkan atau menjauhkan dari kebaikan? Apakah ia menumbuhkan syukur atau keserakahan?

Harta yang tak disertai keberkahan kerap melahirkan kegelisahan. Ia menambah fasilitas, tetapi tidak menghadirkan ketenangan. Sebaliknya, harta yang berkah—meski tampak sedikit—mampu melahirkan rasa cukup, kelapangan hati, dan manfaat yang meluas.

Nasihat tentang persahabatan tanpa kesetiaan pun terasa relevan. Di zaman media sosial, relasi tampak luas, tetapi sering dangkal. Banyak koneksi, sedikit kedalaman. Banyak interaksi, minim ketulusan. Kesetiaan menjadi barang mahal karena relasi kerap dibangun di atas kepentingan sesaat.

Persahabatan sejati menuntut kehadiran, bukan sekadar keterhubungan. Ia menuntut komitmen, bukan sekadar kenyamanan. Tanpa kesetiaan, hubungan mudah retak oleh perbedaan kecil, miskomunikasi, atau perubahan situasi.

Perkara sia-sia lainnya adalah waktu yang tidak dimanfaatkan. Ini mungkin yang paling universal sekaligus paling sering diabaikan. Waktu adalah modal hidup yang paling adil—setiap orang menerimanya dalam jumlah yang sama setiap hari. Namun nilai waktu ditentukan oleh cara mengisinya.

Di era distraksi, waktu kerap habis bukan oleh pekerjaan besar, tetapi oleh hal-hal kecil yang terus-menerus: scrolling tanpa tujuan, hiburan tanpa batas, dan kesibukan semu. Tanpa kesadaran, hari-hari berlalu, tetapi pertumbuhan diri stagnan.

Kajian ini tidak berhenti pada kritik, tetapi mengajak pada perenungan yang konstruktif. Kesia-siaan bukanlah vonis, melainkan peringatan. Ia bukan untuk melemahkan, tetapi untuk membangunkan. Setiap manusia pasti pernah terjebak dalam hal-hal yang kurang bernilai. Yang penting bukanlah menyesali masa lalu, tetapi memperbaiki arah ke depan.

Menariknya, suasana kajian dipenuhi dengan nuansa ringan dan akrab. Sesekali diselingi humor, tetapi tetap menjaga kedalaman makna. Ini mengingatkan bahwa nasihat tidak harus disampaikan dengan nada menggurui. Refleksi bisa tumbuh dalam suasana hangat.

Pesan utama dari kajian ini adalah kesadaran. Hidup yang bermakna tidak lahir secara otomatis; ia menuntut evaluasi terus-menerus. Apa yang kita kejar? Apa yang kita prioritaskan? Apakah aktivitas harian kita selaras dengan tujuan besar kehidupan?

Delapan perkara sia-sia bukan sekadar daftar moral, tetapi cermin eksistensial. Ia menantang setiap orang untuk menilai ulang cara hidupnya. Apakah ilmu kita sudah berbuah amal? Apakah amal kita dijaga keikhlasan? Apakah waktu kita benar-benar hidup?

Kajian subuh itu pun berakhir tanpa gegap gempita, tetapi meninggalkan bekas yang dalam. Para santri kembali ke aktivitas masing-masing, membawa lebih dari sekadar catatan materi. Mereka membawa pertanyaan-pertanyaan penting—pertanyaan yang, jika dirawat, dapat mengubah cara memandang hidup.

Pada akhirnya, kesia-siaan bukanlah tentang sedikit atau banyaknya aktivitas, melainkan tentang hadir atau tidaknya makna. Dan makna, sebagaimana diingatkan dalam kajian tersebut, selalu menuntut kesadaran, kejujuran, dan keberanian untuk memperbaiki diri.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag

Delapan Perkara Sia-Sia: Nasihat Abadi tentang Cara Menghargai Hidup