Tahfizhdulido.com – Milad bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ia adalah jeda refleksi—ruang untuk menimbang arah, mengukur pertumbuhan, sekaligus memperbarui komitmen. Nuansa inilah yang terasa kuat dalam peringatan Milad ke-11 Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido yang diselenggarakan pada Senin, 2 Februari 2026, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertempat di Lapangan Putri Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido. Acara berlangsung khidmat dan hangat, dirangkai dengan buka puasa bersama seluruh civitas pesantren.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., Ust. Affan Afifi, S.H.I., dan Ust. Fachrurozi, M.Pd., bersama segenap keluarga Pesantren, asatidz dan ustadzah, serta seluruh santri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido. Momentum ini sekaligus menjadi penutup agenda tahunan Fahmil Syahril Qur’an IX, menandai berakhirnya satu siklus pembelajaran dan dimulainya babak pengabdian yang baru.

Usia sebelas tahun, jika ditinjau dari akar katanya dalam bahasa Arab—milād yang berasal dari walada (melahirkan)—menempatkan pesantren ini pada fase waladun: belum sepenuhnya dewasa, namun telah melampaui tahap awal. Ia sedang bertumbuh, menguatkan jati diri, dan menyiapkan langkah ke depan. Pada fase inilah arah dan nilai menjadi sangat menentukan.

Akar yang Sama, Dahan yang Berbeda

Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan salah satu “dahan” dari pohon besar Daarul ‘Uluum Lido, bersama Kampus 1 Pesantren Modern Daarul ‘Uluum dan Kampus 2 Kulni. Ketiganya berakar pada nilai dan visi yang sama, yang dirintis oleh mu’assis pesantren, Almarhum Dr. (K.H.) Ahmad Dimyati.

Namun, akar yang sama tidak menuntut keseragaman. Justru perbedaan dahan adalah keniscayaan. Setiap pesantren perlu memiliki kekhasan, orientasi, dan kurikulum yang berbeda. Jika semuanya seragam, maka kehadiran cabang akan kehilangan maknanya. Dalam konteks inilah Pesantren Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido menegaskan identitasnya: tahfizh Al-Qur’an yang berpadu dengan penguatan keilmuan serta kesiapan akademik.

Dalam kurun sebelas tahun, perkembangan pesantren ini terbilang signifikan. Para santri tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga menunjukkan daya juang intelektual yang tinggi. Banyak di antara mereka yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri, termasuk ke Timur Tengah. Hal ini bukan untuk membandingkan, melainkan untuk menegaskan peran: setiap dahan tumbuh dengan arah dan fungsinya masing-masing.

Keikhlasan sebagai Fondasi Utama

Dalam rangkaian acara milad, disampaikan isyādāt wa taujīhāt oleh Ust. Affan Afifi, S.H.I., yang kembali menegaskan pesan klasik namun fundamental: menjaga niat dan keikhlasan. Nilai ini sejalan dengan wasiat yang kerap disampaikan oleh Almarhum pendiri pesantren. Lillāhi ta‘ālā bukan sekadar slogan, melainkan fondasi keberlanjutan amal.

Pesantren dapat berdiri megah secara fisik, tetapi kualitasnya ditentukan oleh hati para penghuninya. Keikhlasan sering kali diuji bukan oleh kesulitan besar, melainkan oleh perbandingan dan rasa terusik terhadap perilaku orang lain. Almarhum kerap mengingatkan agar setiap insan pesantren fokus pada amalnya sendiri. Kebaikan akan kembali kepada pelakunya, dan keburukan pun akan menemukan jalannya sendiri.

Nilai keikhlasan ini tidak hanya dituntut dari guru dan santri, tetapi juga dari orang tua. Menyantrikan anak bukan sekadar menitipkan, melainkan menyerahkan dengan sepenuh hati. Banyak persoalan dalam perjalanan pendidikan sejatinya berakar pada ketidaksiapan batin untuk benar-benar ikhlas.

Menjaga Tradisi, Menyambut Pembaruan

Prinsip kedua yang diwariskan Almarhum adalah kaidah pesantren yang masyhur:

al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bil-jadīd al-aṣlaḥ—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat.

Mendirikan pesantren mungkin terasa lebih mudah daripada merawat dan melanjutkannya. Tradisi keilmuan yang dahulu ditanam dengan penuh perjuangan dapat terkikis apabila tidak dijaga secara sadar. Di Darul Ulum, penguasaan ilmu alat—nahwu dan sharaf—serta fikih merupakan ciri kuat yang berakar dari latar belakang keilmuan pendirinya di bidang syariah.

Hal ini tercermin dalam sistem evaluasi pesantren yang komprehensif: tidak hanya hafalan Al-Qur’an, tetapi juga bahasa Arab dan Inggris, fikih, kitab, tajwid, praktik ibadah, hingga penguatan adab. Tradisi inilah yang menjadi identitas dan pembeda Darul Ulum dari banyak pesantren lainnya.

Menariknya, cita-cita Almarhum untuk memperdalam ilmu tafsir dan hadis—yang dahulu ingin beliau tempuh di Mesir—kini justru terwujud melalui para santrinya. Pesantren Tahfizh ini menjadi ruang penguatan ‘ulūmul Qur’ān, khususnya tafsir, sebagai langkah menuju lahirnya generasi penghafal yang tidak hanya menjaga lafaz, tetapi juga memahami dan menjelaskan makna Al-Qur’an.

Luas dalam Ilmu, Kuat dalam Daya

Pesan terakhir yang tak kalah penting adalah konsep basṭatan fī al-‘ilm wa basṭatan fī al-jism: keluasan ilmu dan kekuatan fisik. Ilmu menempati posisi utama. Bahkan menurut Almarhum, ilmu yang belum sempat diamalkan tetap bernilai di sisi Allah.

Namun, kecerdasan saja tidaklah cukup. Santri juga dituntut sigap, sehat, dan tangguh. Tubuh yang lemah mencerminkan kesiapan yang rapuh. Karena itu, kedisiplinan, ketangguhan fisik, dan etos kerja menjadi bagian integral dari pendidikan karakter pesantren.

Menapaki Kedewasaan dengan Kesadaran

Sebelas tahun bukanlah akhir, melainkan awal menuju kedewasaan. Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido sedang belajar menjaga akar sambil menumbuhkan dahan. Tantangannya bukan semata membangun fasilitas, melainkan merawat nilai; bukan hanya mencetak hafidz, tetapi melahirkan penjaga Al-Qur’an yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi.

Dari usia yang masih waladun ini, harapannya pesantren terus bertumbuh—teguh pada akar tradisi, dan berani menatap masa depan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag