Tahfizhdulido.com – Tiga puluh tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan jejak panjang pengabdian, kesabaran, dan keberkahan yang terus mengalir. Itulah makna yang terasa kuat dalam peringatan Milad Tiga Dasawarsa Pesantren Modern Darul ‘Uluum Lido—sebuah momentum reflektif untuk bersyukur, menengok perjalanan, sekaligus meneguhkan arah masa depan.
Dalam sambutannya, Khadim Al-Ma’had pesantren tersebut, Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc, mengajak seluruh hadirin menempatkan perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ekspresi syukur yang hidup dan penuh kesadaran spiritual. Beliau membuka sambutan dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Rabb yang menciptakan, membimbing, memberi rezeki, menyembuhkan, mematikan, dan menghidupkan kembali. Shalawat dan salam turut dipanjatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Menurut beliau, keberadaan pesantren ini sejatinya adalah hadiah dari Allah. Rasulullah telah menyampaikan risalah, Allah menganugerahkan karunia, dan manusia berada pada posisi sebagai penerima. Maka sikap paling pantas dari seorang penerima hadiah adalah syukur yang tulus dan kegembiraan yang jujur. “Keberkahan pondok ini harus diterima dengan farah, yakni rasa senang,” kurang lebih demikian pesan yang disampaikan. Sebab kegembiraan atas nikmat bukanlah sikap berlebihan, melainkan justru perintah Al-Qur’an: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58). Dalam perspektif ini, Festival Milad bukan sekadar rangkaian lomba dan acara, tetapi simbol kegembiraan kolektif atas karunia Allah yang telah menjaga dan menumbuhkan pesantren hingga usia tiga puluh tahun.
Beliau juga membagikan refleksi personal tentang pesan seorang guru yang terus hidup dalam ingatannya: “Nikmati saja. Karena sesuatu yang berkah itu akan memberkahi.” Kalimat singkat itu menemukan bukti nyatanya dalam perjalanan Darul Ulum Lido. Apa yang dahulu hanya berupa mimpi perlahan menjadi kenyataan. Di awal berdirinya pesantren, keinginan besar almarhum Ahmad Dimyati hanyalah memiliki sebuah aula. Dengan niat, doa, dan keberanian, aula tersebut akhirnya berdiri meski sang pendiri belum sempat menyaksikan wujud akhirnya. Kini bangunan itu telah beralih fungsi menjadi asrama santriwati dan terus memberi manfaat. Bahkan kawasan pesantren berkembang jauh melampaui bayangan awal: masjid bertambah, ruang pendidikan meluas, hingga berdirinya Ma’had Tafsir Al-Qur’an sebagai kampus ketiga. “Kalau bukan karena keberkahan dari Allah, semua ini tidak mungkin terjadi,” tegas beliau.
Keberkahan pesantren, lanjut beliau, tidak berhenti pada bangunan fisik. Ia menular kepada orang-orang yang mengabdikan diri di dalamnya. Para guru yang dahulu memulai dengan keterbatasan kini merasakan kecukupan. Para santri menemukan arah hidup, bahkan membangun keluarga dari lingkungan pesantren itu sendiri. Dengan demikian, pesantren bukan hanya mendidik, tetapi juga memberkahi—memberi kehidupan, ketenangan, dan pertumbuhan bagi banyak orang.
Karena itulah, kemeriahan Festival Milad justru menjadi tanda syukur yang sehat. Tidak bergembira atas nikmat, menurut beliau, justru patut dikhawatirkan sebagai bentuk kelalaian terhadap karunia Allah. Kegembiraan yang lahir dari syukur adalah ibadah, dan festival ini menjadi bahasa kolektif untuk menyatakan bahwa seluruh keluarga besar pesantren bersyukur.
Namun usia tiga puluh tahun juga menghadirkan tanggung jawab besar. Tantangan terbesar pesantren ke depan bukan semata pembangunan fisik, melainkan menjaga visi dan cita-cita pendiri. Siapa pun yang merasa menjadi bagian dari Darul Ulum Lido—guru, santri, maupun alumni—adalah murid dari KH. Ahmad Dimyati. Meski zaman berubah dan gelar bertambah, adab keilmuan tetap menuntut kesetiaan pada visi besar sang pendiri: membangun generasi berilmu, beradab, dan berkhidmah. Yang harus diwarisi bukan hanya bangunannya, tetapi ruh, mimpi, dan arah perjuangannya.
Festival Milad Tiga Dasawarsa ini hanyalah awal. Puncak perayaan akan digelar menjelang bulan Juni. Namun yang terpenting, semangat syukur, kegembiraan, dan penjagaan amanah harus terus hidup melampaui seremoni. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan usia, rezeki, kesehatan, dan istiqamah ibadah kepada seluruh keluarga besar Pesantren Modern Darul Ulum Lido, karena pesantren yang berkah akan terus memberkahi—hari ini, esok, dan seterusnya.
