Tahfizhdulido.com – Pagi yang khusyuk itu menjadi saksi bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an tidak pernah benar-benar selesai. Di Masjid Al-Maktoem, Pesantren Tahfidz Al-Quran Daarul Uluum Lido, lantunan ayat-ayat suci mengalir dengan penuh ketenangan dalam agenda Pembacaan Hafalan Terakhir — sebuah momentum sakral yang menandai tuntasnya setoran hafalan para santri sebelum dinyatakan khatam.

Agenda ini dilaksanakan pada Minggu, 1 Februari 2026, sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai, dan dikoordinasikan langsung oleh Bagian BPPQ. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni administratif, melainkan tahap akhir yang sangat menentukan dalam proses panjang tahfizh Al-Qur’an. Di sinilah hafalan diuji secara terbuka, disimak dengan penuh ketelitian, dan disahkan sebagai amanah besar yang harus dijaga seumur hidup.

Sebanyak 14 santri dari berbagai jenjang kelas tampil sebagai pembaca hafalan terakhir. Mereka berasal dari kelas 3 hingga kelas 6. Mayoritas membaca Surat Al-Mursalat ayat 1–50, sementara sebagian lainnya hingga ayat ke-30, sesuai jenjang dan target hafalan masing-masing. Nama-nama yang tampil bukan sekadar daftar, tetapi representasi dari bertahun-tahun perjuangan, disiplin, dan kesabaran.


Santriwan Khatimin


Santriwati Khatimat

Para pembaca tersebut adalah:

  • Jihan Amini dan Adzra Jannah Humairah Syam (kelas 6A)

  • Muhammad Faliq Rizki Adrian, Muhammad Hasbian, Ahmad Irwansyah Hasibuan, Muhamad Husni Firdaus (kelas 5C)

  • Sindy Raudhatul Jannah, Zidny Kasyfa Aulia, Jihan Ramadhani, Mahdalena Azzahra, dan Adinda Damayanti (kelas 5A dan 5B)

  • Anna Alfatunnisa (kelas 4A)

  • Fadilah Dwi Putra Darsono dan Azra Azkadina (kelas 3A dan 3B)

Masing-masing membaca di bawah bimbingan langsung ustadz dan ustadzah pembimbing mereka.

Daftar Santri Hafizh dan Hafizhah

Dalam sambutannya, Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., menegaskan bahwa khataman bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Hafalan Al-Qur’an bukan prestasi sesaat yang cukup dirayakan dengan tepuk tangan, tetapi amanah yang harus dijaga dengan istiqamah hingga akhir hayat. Murajaah, adab terhadap Al-Qur’an, serta pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari menjadi tolok ukur utama keberhasilan seorang hafizh dan hafizhah.

Momen ini juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para orang tua. Dalam tradisi keilmuan Islam, keberhasilan seorang anak menghafal Al-Qur’an bukan hanya kemuliaan bagi dirinya, tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Harapan akan syafaat Al-Qur’an kelak di akhirat menguatkan setiap lelah, doa, dan pengorbanan selama proses pendidikan.

Pelaksanaan pembacaan hafalan terakhir tahun ini berlangsung di tengah padatnya agenda pesantren. Tanggal 1 Februari bertepatan dengan pembukaan rangkaian Milad ke-30 Pesantren Darul Ulum Lido. Sejak pagi, seluruh civitas pesantren terlibat dalam grand opening tiga dasa warsa, sehingga kegiatan tahfizh menyesuaikan jadwal tanpa mengurangi kekhidmatan.

Di waktu yang sama, pesantren juga menggelar perlombaan Fahmil Syahril Qur’an ke-9, agenda tahunan yang dirancang untuk mengasah pemahaman santri terhadap Al-Qur’an secara komprehensif. Tidak hanya hafalan, tetapi juga kecakapan menjelaskan makna, menjawab persoalan, hingga menyampaikan pesan Al-Qur’an dalam bentuk dakwah dan dialog ilmiah. Semua ini menegaskan satu pesan penting: Al-Qur’an tidak berhenti di lisan, tetapi harus hidup dalam pikiran dan tindakan.

Rangkaian kegiatan milad semakin kaya dengan kehadiran para alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang strategis — akademisi, profesional, hingga pemerintahan. Sesi berbagi pengalaman ini menjadi cermin bahwa pesantren bukan hanya mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk generasi yang siap berkontribusi di ruang publik dengan nilai-nilai Qur’ani.

Menutup seluruh rangkaian, Abi Bay kembali mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada jumlah juz semata, melainkan pada kesetiaan menjaga, mengamalkan, dan memperjuangkan Al-Qur’an sepanjang hayat. Khataman dan pembacaan hafalan terakhir hanyalah gerbang awal menuju pengabdian yang lebih luas.

Di Masjid Al-Maktoem pagi itu, Al-Qur’an tidak hanya dibaca — ia diserahkan kembali ke dalam dada para penjaganya, dengan doa agar tetap terjaga hingga Allah sendiri yang memanggil mereka untuk berhenti membaca. Karena di Pesantren Tahfidz Al-Quran Daarul Uluum Lido, khataman bukanlah akhir, melainkan janji untuk terus istiqamah bersama Al-Qur’an.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag