Pada Selasa pagi, 16 Desember 2025, suasana di depan Kantor BPPK tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.00 WIB, para pengawas telah berkumpul untuk mengikuti apel pagi yang dipimpin oleh Ust. Drs. H. Ahmad Yani, M.Pd.I. Apel ini tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial, melainkan momentum reflektif untuk kembali menguatkan nilai-nilai dasar dalam menjalankan amanah pendidikan, khususnya di tengah dinamika ujian dan tanggung jawab akademik yang sedang berlangsung.

Dalam sambutannya, Ust. Drs. H. Ahmad Yani, M.Pd.I mengawali dengan mengajak seluruh pengawas untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan. Menurut beliau, kesehatan merupakan fondasi utama dalam menjalankan seluruh aktivitas kehidupan, termasuk mendidik dan mengabdi. Tanpa kesehatan, berbagai rencana dan tugas yang telah disusun dengan baik dapat terhambat. Oleh karena itu, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui upaya menjaga diri, mengelola energi, dan memanfaatkan waktu secara bijak.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya memulai setiap aktivitas dari hal-hal yang sederhana namun mendasar. “Mulailah dari yang sedikit sebelum memulai yang banyak,” pesan beliau. Salah satu bentuk konkret dari prinsip tersebut adalah membiasakan diri mengawali setiap aktivitas dengan basmalah. Kalimat singkat ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa setiap langkah yang diambil membutuhkan pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT. Dari kebiasaan kecil inilah akan tumbuh kesadaran spiritual yang kuat dalam menjalani tugas-tugas besar.

Memasuki inti pesan, Ust. Drs. H. Ahmad Yani, M.Pd.I menekankan urgensi memperbaharui niat, khususnya di masa ujian. Ia menegaskan bahwa tugas seorang pengawas bukan sekadar hadir di ruang ujian, tetapi memastikan proses ujian berjalan dengan jujur, tertib, dan bertanggung jawab. Demikian pula seorang guru, hakikat tugasnya bukan hanya mengajar di kelas, melainkan mendidik dan membimbing santri sebagai individu. Perubahan sudut pandang ini menjadi penting agar setiap peran dijalankan dengan kesadaran penuh dan orientasi yang benar.

Beliau juga mengulas tentang nikmat sehat sebagai “jalan dalam” kehidupan. Ketika fisik tidak sehat, dampaknya tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga memengaruhi konsentrasi, emosi, dan kualitas interaksi sosial. Fisik diibaratkan sebagai kendaraan bagi jiwa, sementara pikiran menjadi pusat pengambilan keputusan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan fisik dan kejernihan pikiran merupakan bagian dari ikhtiar profesional sekaligus spiritual seorang pendidik.

Tidak kalah penting, Ust. Drs. H. Ahmad Yani, M.Pd.I mengajak para pengawas untuk merenungkan peran hati dalam membentuk perilaku dan karakter. Hati merupakan pusat niat dan dorongan batin. Dari hati yang baik akan lahir tindakan yang baik, dan dari hati yang rusak akan muncul perilaku yang menyimpang. Baik buruknya karakter seseorang pada akhirnya bermuara dari kondisi hatinya. Karena itu, merawat hati dengan keikhlasan, kejujuran, serta kesadaran akan pengawasan Allah SWT menjadi kebutuhan mutlak bagi seorang pendidik.

Dalam realitas sosial, beliau juga mengingatkan bahwa niat baik dan perbuatan baik terkadang dapat disalahpahami oleh orang lain. Jika niat baik saja bisa dipersepsikan keliru, apalagi niat yang tidak lurus. Pesan ini menjadi pengingat agar para pendidik tidak larut dalam penilaian manusia, tetapi tetap berpegang pada keikhlasan dan prinsip kebenaran dalam menjalankan amanah.

Sebagai penutup, Ust. Drs. H. Ahmad Yani, M.Pd.I menyoroti realitas profesi guru yang sarat tantangan. Mengoreksi, mengawasi, dan mengajarkan adalah tugas yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan konsistensi. Namun, semua itu tidak akan bernilai pahala di sisi Allah SWT apabila tidak dilakukan dengan keikhlasan. Profesionalisme tanpa keikhlasan hanya akan melahirkan kelelahan, bukan keberkahan.

Beliau menutup sambutan dengan sebuah pepatah Arab yang sarat makna: “Al-jazā’u bi qadri at-ta’bī” (الجزاء بقدر التعب), yang berarti “balasan itu sesuai dengan pelaksanaannya.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa kualitas balasan, baik di dunia maupun di akhirat, sangat ditentukan oleh bagaimana sebuah amanah dijalankan. Apel pagi pun berakhir dengan suasana hening dan penuh perenungan, meninggalkan pesan mendalam bagi seluruh peserta untuk senantiasa menjaga niat, merawat hati, dan menunaikan tugas pendidikan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.