Lapangan utama Pesantren Modern Daarul Uluum Lido pagi itu penuh dengan warna kebahagiaan. Ratusan santri berbaris rapi, bendera merah putih berkibar gagah di tengah kabut tipis pegunungan. Upacara peringatan Hari Santri Nasional 2025 dimulai tepat pukul 07.45 WIB. Dalam suasana khidmat, Kiai Muhammad Yazid, S.Th.I., Lc., menyampaikan irsyadat wa taujihat amanah yang bukan hanya menggetarkan hati para santri, tetapi juga mengingatkan kembali tentang makna keberadaan mereka di tengah zaman yang berubah cepat.
“Tanpa Resolusi Jihad 22 Oktober, tak akan pernah ada peristiwa 10 November,” ujar beliau lantang, menegaskan bahwa akar kepahlawanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari tinta ulama dan darah para santri. Kalimat itu seketika membuat suasana hening. Para santri menunduk, menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas sejarah panjang perjuangan spiritual dan kebangsaan.
Tanggal 22 Oktober 1945 adalah momentum ketika Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad di Surabaya. Seruan itu bukan sekadar ajakan perang, tetapi panggilan iman untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai bagian dari kewajiban agama. Santri-santri muda waktu itu meninggalkan kitab dan sorban, menggenggam bambu runcing dengan dada penuh keyakinan. Dari kobaran semangat itu, lahirlah peristiwa 10 November yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Di sinilah kita belajar bahwa santri bukan sekadar penghafal kitab, tetapi penggerak sejarah. Mereka menjadi jembatan antara ulama dan rakyat, menyebarkan semangat kebangsaan dengan bahasa agama, dan menanamkan nilai keikhlasan serta tawakal dalam perjuangan. Santri-lah yang mengajarkan bahwa jihad tidak selalu berarti angkat senjata, tetapi juga kesungguhan menjaga ilmu, akhlak, dan martabat bangsa.
Kiai Yazid mengingatkan, “Jika kiai adalah matahari yang bersinar, maka santri adalah embun yang menampung cahayanya.” Ungkapan itu menggambarkan posisi santri yang senantiasa menyerap, menyalurkan, dan menjaga cahaya ilmu agar tidak padam oleh angin zaman.
Namun, peringatan Hari Santri tahun ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia menjadi refleksi kritis terhadap posisi santri di era digital. Dunia berubah: pengetahuan berpindah dari rak kitab ke layar ponsel, fatwa disebar lewat algoritma, dan dakwah bersaing dengan arus konten tanpa arah.
Kiai Yazid menegaskan bahwa santri masa kini harus menjadi penjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. “Menjadi santri bukan soal sarung dan peci, tapi tentang kesederhanaan berpikir, keikhlasan bertindak, dan keteguhan menjaga nilai di tengah derasnya arus perubahan,” tuturnya. Santri masa kini ditantang untuk tidak hanya cakap mengaji, tetapi juga mampu melek digital memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan arah spiritual. Internet bisa menjadi medan dakwah, tetapi juga jebakan jika tidak diiringi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Di sinilah peran pesantren menjadi krusial: membentuk generasi yang berpikir kritis, berakhlak mulia, dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Menulis Sejarah dari Sujud dan Hafalan
“Dalam setiap rakaatmu, setiap hafalanmu, setiap keringatmu di lapangan, di kelas, di masjid sesungguhnya engkau sedang menulis sejarahmu dalam Lauh Mahfuzh.” Kalimat ini keluar lembut dari lisan Kiai Yazid, namun menembus hati para santri. Ia menegaskan bahwa menjadi santri bukan tentang dikenang, melainkan tentang setia berjuang meski tak disebut. Di zaman ketika popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, pesan ini terasa seperti tamparan lembut. Sebab di pesantren, yang dihitung bukan jumlah followers, melainkan seberapa kuat tekad untuk istiqamah menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Bagi santri, sujud adalah bentuk perlawanan terhadap kesombongan. Hafalan adalah wujud jihad melawan lupa. Dan kesabaran dalam menimba ilmu adalah ibadah panjang yang nilainya melampaui dunia. Di sinilah hakikat jihad modern: melawan hawa nafsu, menundukkan ego, dan menegakkan kebenaran dalam keseharian
Kiai Yazid menutup amanahnya dengan pesan yang sarat makna: “Santri harus menjadi pemersatu, penengah, bukan peretak.” Dalam era yang mudah terbelah oleh perbedaan opini dan kepentingan, pesan ini terasa amat relevan. Santri, dengan kedalaman ilmunya dan kelapangan hatinya, seharusnya menjadi sumber kesejukan, bukan bara perpecahan.
Imam Syafi’i pernah berkata dalam Ar-Risalah: “Ilmu tidak akan diberikan kepada orang yang mencari dunia dengannya, tetapi hanya kepada mereka yang mencari ridha Allah.” Maka, santri sejati bukanlah yang sekadar berpengetahuan, tapi yang menjadikan ilmu sebagai sarana mendekat kepada Allah dan membawa manfaat bagi umat.
Menjaga Nyala Resolusi Jihad
Kini, delapan puluh tahun sudah berlalu sejak seruan Resolusi Jihad dikumandangkan. Namun semangatnya tidak boleh padam. Santri hari ini harus mampu menerjemahkan jihad dalam konteks baru: jihad melawan kebodohan, kemalasan, hoaks, dan perpecahan. Dunia digital menuntut kecerdasan spiritual agar teknologi tidak menggerus nilai. Selama masih ada yang mengaji di waktu fajar, selama masih ada yang menundukkan kepala di hadapan kitab dan guru, selama masih ada santri yang sabar menjaga adab dan ilmu maka selama itu pula bangsa ini akan tetap punya harapan.
Di bawah langit pesantren Daarul Uluum Lido, gema takbir dan semangat para santri kembali menegaskan satu hal: bahwa santri bukan hanya pewaris masa lalu, tetapi penentu masa depan bangsa.
Selamat Hari Santri Nasional 2025.
Tetaplah menjadi cahaya yang tak padam oleh zaman.