Tahfizhdulido.com – Pada Senin malam selepas salat Maghrib, Masjid Al-Maktoem dipenuhi oleh para santri dan civitas guru tahfizh. Suasana khusyuk menyelimuti ruangan ketika acara dimulai. Hadir pula Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., bersama para guru dan Khodimul Ma’had. Malam itu, mereka melaksanakan pembacaan Hadroh Thariqah Azaimiyyah yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah diskusi reflektif-spiritual. Bukan sekadar pengajian biasa, diskusi ini mengajak seluruh hadirin untuk merenungi kembali keterhubungan manusia dengan semesta, serta bagaimana memposisikan diri sebagai hamba Allah dalam keselarasan ciptaan-Nya.

Mengingat Kosmos, Mengingat Diri

Kiai Yazid membuka refleksi dengan menggambarkan bagaimana seluruh elemen kosmik, dari partikel terkecil hingga galaksi terbesar, senantiasa berputar dalam keteraturan. Peredaran atom, orbit bumi mengelilingi matahari, hingga galaksi yang berputar di ruang tak terbatas, semua digambarkan sebagai bentuk tasbih—pujian abadi kepada Sang Pencipta. Alam semesta seakan menyanyikan simfoni pengingat agar manusia pun tidak lalai dalam memuji.

Namun, di tengah tatanan semesta yang begitu rapi, manusia justru sering kali tergelincir dalam kelupaan. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa segala yang ada di langit dan bumi bertasbih, meskipun manusia tidak selalu mampu memahami cara mereka memuji. Kelalaian ini bukan tanpa makna. Ia hadir sebagai tanda keterbatasan epistemik manusia sekaligus bentuk kasih sayang Ilahi, yang menutup sebagian tabir agar manusia tidak hancur oleh intensitas kesadaran kosmik yang melampaui kapasitasnya.

Diskusi malam itu menekankan satu hal penting: orientasi hidup seorang hamba adalah mengingat dan memuji Allah tanpa menuntut imbalan duniawi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap tergoda oleh “bonus” berupa pengakuan, prestasi, atau keuntungan material. Padahal, orientasi sejati bukanlah pada hasil-hasil tambahan, melainkan pada pengingatan terus-menerus kepada Yang Maha Kuasa.

Kiai Yazid mengingatkan, sifat manusia yang mudah lupa tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, kelupaan itu justru menuntut disiplin batin yang lebih kuat. Zikir, wirid, dan doa menjadi sarana konkret agar manusia tidak terhanyut dalam arus kelalaian. Dengan menjaga konsistensi amalan sederhana tersebut, hati akan tetap selaras dengan tatanan semesta yang terus-menerus memuji.

Metafora Kosmik: Gerakan dan Penyelarasan

Penjelasan kemudian memasuki ranah metaforis. Perputaran atom, peredaran darah dalam tubuh, hingga orbit bumi dan galaksi, semua dipandang sebagai gambaran penyelarasan. Gerakan ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan simbol spiritual bahwa segala sesuatu bergerak dalam satu arah: mengingat Sang Pencipta.

Dengan sudut pandang ini, seorang muslim diajak untuk menata dirinya. Sebagaimana galaksi tidak pernah keluar dari orbitnya, manusia pun harus menjaga agar hidupnya tetap berada dalam orbit ketaatan. Bila keluar jalur, maka harmoni akan terganggu. Dengan demikian, disiplin spiritual bukanlah sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan eksistensial agar manusia tetap terhubung dengan denyut kosmik semesta.

Praktik Spiritual yang Membumi

Walaupun bahasan diskusi meluas hingga kosmologi dan metafisika, Kiai Yazid menekankan bahwa esensinya tetap sederhana. Manusia tidak dituntut memahami rumitnya mekanisme kosmik, melainkan cukup meneguhkan hati dengan praktik keseharian. Zikir setelah salat, wirid rutin, doa sebelum tidur—semua sudah cukup sebagai latihan menjaga fokus spiritual.

Di sinilah letak kearifan Islam: yang diminta bukan teori muluk, melainkan amalan konsisten yang membumi. Disiplin ini ibarat tali yang mengikat manusia agar tidak terlempar ke jurang kelalaian. Setiap lafaz zikir yang terucap adalah langkah kecil menuju orbit ilahi, menempatkan manusia dalam keselarasan dengan semesta yang bertasbih.

Tentu, ancaman terbesar bagi manusia adalah lupa. Kelupaan bisa muncul karena kesibukan duniawi, tuntutan pekerjaan, atau godaan teknologi yang menyedot perhatian. Manusia modern cenderung mengukur keberhasilan dengan pengakuan eksternal, angka-angka, atau pencapaian material. Padahal, jika fokus utama teralihkan, maka tujuan sejati bisa hilang.

Diskusi ini mengingatkan bahwa risiko terlalu tenggelam dalam analisis fenomena kosmis juga berbahaya. Jika sibuk mengurai misteri semesta, manusia justru bisa melupakan latihan praktis yang seharusnya menjadi inti: disiplin zikir dan kesadaran ilahi. Seperti kata Kiai Yazid, “Tidak usah menunggu menjadi ahli kosmologi untuk bertasbih. Cukup jadilah manusia yang konsisten mengingat.”

Sebagai penutup, Kiai Yazid memberikan arahan praktis. Pertama, buatlah jadwal harian untuk zikir, wirid, dan doa. Kedua, gunakan pengingat sederhana—baik berupa catatan, alarm, atau pesan sesama santri—agar tidak mudah lupa. Ketiga, lakukan evaluasi niat setiap pekan: apakah amal yang dilakukan benar-benar demi Allah atau sekadar mencari pengakuan? Keempat, jadikan semesta sebagai pengingat: ketika melihat bulan, matahari, atau bintang, ingatlah bahwa mereka semua sedang bertasbih.

Pesan terakhir begitu mengena: jangan menjadikan aktivitas spiritual sebagai sarana mencari pengakuan eksternal. “Bonus” bukanlah tujuan utama, sebab tujuan tunggal manusia adalah tetap dalam orbit pujian kepada Allah. Dengan ketulusan dan konsistensi, setiap amal kecil akan menemukan maknanya.

Penutup

Malam itu, Masjid Al-Maktoem bukan sekadar saksi pembacaan Hadroh Thariqah Azaimiyyah, tetapi juga menjadi ruang perenungan kolektif tentang hakikat keberadaan manusia. Diskusi reflektif tersebut mengajarkan bahwa seluruh semesta, dari atom hingga galaksi, tidak pernah berhenti memuji Sang Pencipta. Maka, manusia yang sering kali lupa, justru dituntut untuk meneguhkan kesadaran melalui disiplin spiritual.

Pesannya sederhana namun dalam: selaraskan diri dengan semesta melalui zikir, wirid, dan doa. Jangan terjebak pada bonus pengakuan duniawi, sebab orientasi sejati hanyalah satu: mengingat Allah. Dengan demikian, manusia tidak hanya menjadi penonton semesta yang bertasbih, tetapi ikut serta dalam simfoni abadi pujian yang menghubungkan makhluk dengan Sang Khalik.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag