Tahfizhdulido.com – Pada Sabtu, 27 September 2025, suasana di pesantren terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 10 pagi, seluruh santri dan dewan guru baik dari TMI maupun Tahfizh telah memenuhi Aula Multazam. Hari itu bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah momentum istimewa: sebuah acara internasional bertajuk “Youth Empowerment in the Islamic World through Strengthening Islamic Boarding School Students.”
Acara ini diselenggarakan oleh bagian diplomasi pesantren dengan tujuan memperluas relasi internasional serta membuka wawasan karir yang lebih luas bagi para santri. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional tidak hanya berfokus pada hafalan atau kajian kitab, melainkan juga berusaha mempersiapkan santrinya menghadapi realitas global yang kian kompleks. Lewat forum ini, para santri diharapkan dapat mengasah keterampilan, membangun jejaring internasional, serta memahami peran penting mereka dalam membentuk masa depan dunia Islam.
Suasana Panel yang Inspiratif
Panel utama menghadirkan dua tokoh internasional: Dr. Muhammad Hazimeh, Direktur Pendidikan dan Pelatihan ICYF, serta Ms. Astrid Nadya Rizqita, Presiden OIC Youth Indonesia. Kehadiran mereka menjadi magnet tersendiri. Para santri menyimak dengan penuh antusias, sementara para guru memandang acara ini sebagai kesempatan berharga untuk memperluas cakrawala pendidikan pesantren.
Dalam paparannya, Dr. Hazimeh menyampaikan pengalaman pribadinya yang menyentuh. Ia bercerita bahwa meski ibu kota Lebanon adalah Beirut, ia sendiri lebih memilih tinggal di pedesaan. Alasannya sederhana: di desa, ia menemukan kejujuran hidup, ketenangan, dan kebersahajaan. Dari perjalanannya ke lebih dari 80 negara, ia melihat betapa kesenjangan pembangunan begitu nyata antara gemerlap ibu kota dan keterbelakangan daerah pinggiran. Refleksi ini ia kaitkan dengan dunia pendidikan, bahwa pembangunan tidak boleh timpang, dan bahwa kesempatan harus merata.
“Wajah-wajah kalian adalah wajah penuh cahaya,” ungkapnya kepada para santri. “Kalian adalah kebaikan hari ini sekaligus harapan masa depan. Masa depan Islam dan dunia ada di tangan kalian.”
Santri sebagai Tulang Punggung Peradaban
Pesan yang paling mengena dari Dr. Hazimeh adalah penegasan bahwa santri dan lembaga pendidikan Islam adalah tulang punggung peradaban Islam. Mereka tidak hanya ditempa dengan ilmu agama, tetapi juga dengan nilai-nilai karakter, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Ia mengingatkan bahwa di era digital, ilmu pengetahuan bisa diakses di mana saja. Siapa pun dapat membuka ratusan referensi hanya dengan satu sentuhan gawai. Namun, yang membedakan seorang santri dengan yang lain adalah karakter dan kepribadian: kepemimpinan, integritas, serta kemampuan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Inilah yang sedang kalian bangun di pesantren. Bukan sekadar ilmu, tetapi juga akhlak dan keteladanan,” tegasnya.
Dr. Hazimeh juga menyoroti fenomena generasi muda, khususnya Gen Z, yang sering tergoda mencari jalan pintas. Namun ia yakin pesantren mampu menyiapkan generasi yang berbeda: generasi yang terorganisir, bertekad kuat, dan memiliki visi besar. Ia menekankan, “Jika targetmu hanya lantai satu, mungkin kamu akan lelah di tengah jalan. Tetapi jika targetmu adalah bulan, maka semangatmu akan membawamu lebih jauh.”
Diplomasi Pemuda dan Relasi Global
Selain refleksi pribadi, sesi panel juga menekankan pentingnya diplomasi pemuda dalam menghadapi tantangan global. Ms. Astrid Nadya Rizqita menjelaskan berbagai program yang dijalankan ICYF dan OIC Youth, mulai dari Model OIC (MoIC) hingga forum diplomasi internasional. Program-program ini memberi ruang bagi pelajar untuk belajar keterampilan negosiasi, berpikir kritis, dan komunikasi lintas budaya.
Bagi santri, inisiatif ini bukan sekadar ajang seremonial, tetapi sebuah laboratorium kepemimpinan. Melalui simulasi diplomasi, santri belajar bagaimana berdialog dengan penuh hormat, memahami sudut pandang berbeda, dan menemukan solusi bersama. Dengan demikian, pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga tradisional, melainkan juga sebagai pusat pengembangan kapasitas pemuda Muslim yang siap bersaing di tingkat global.
Nilai-Nilai Islam sebagai Fondasi
Di tengah sorotan pada keterampilan modern, para pembicara tetap menegaskan pentingnya nilai Islam sebagai fondasi. Perdamaian, ketangguhan, dan pelayanan kepada masyarakat adalah prinsip yang harus mewarnai setiap langkah pemuda. Apa yang diajarkan di dalam kelas pesantren seperti rasa hormat, kemanusiaan, dan solidaritas adalah bekal yang relevan untuk kepemimpinan global.
Para santri diajak untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai penerus tradisi, melainkan juga sebagai duta nilai-nilai Islam. Mereka adalah jembatan peradaban, penghubung antar-komunitas, sekaligus calon pemimpin yang akan menentukan arah masa depan umat.
Diplomasi dan Peran Pemuda di Kancah Global
Panel kedua dalam acara bertajuk Youth Empowerment in the Islamic World through Strengthening Islamic Boarding School Students menghadirkan sosok inspiratif, Ms. Astrid Nadya Rizqita, Presiden OIC Youth Indonesia. Dengan gaya yang sederhana namun penuh makna, beliau membuka pemaparan dengan ungkapan syukur serta apresiasi kepada para santri dan dewan guru Pesantren Darul Ulum Lido. Bagi Ms. Astrid, pertemuan semacam ini bukan hanya sekadar forum, melainkan wadah untuk menumbuhkan semangat baru tentang pentingnya diplomasi dan representasi pemuda di panggung dunia.
Beliau menekankan, inti dari diplomasi adalah representing yakni mewakili bangsa, nilai, dan kepentingan dalam berbagai forum. Ms. Astrid mencontohkan momen penting ketika Presiden Republik Indonesia pada 23 September lalu hadir di Sidang Umum PBB secara fisik, setelah satu dekade absen. Kehadiran itu bukan hanya simbol, melainkan pesan kuat bahwa Indonesia serius dan berkomitmen dalam kancah global. Menurutnya, diplomasi tidak berhenti pada pidato atau pertemuan formal, tetapi mencakup bagaimana kita membawa gagasan, melindungi kepentingan, sekaligus mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan keadilan.
Dalam pemaparannya, Ms. Astrid juga mengingatkan bahwa diplomasi bukan hanya urusan para diplomat di Kementerian Luar Negeri. Setiap individu, termasuk para santri, sejatinya adalah “aktor diplomasi.” Di era keterhubungan global, apa yang terjadi di Palestina, Timur Tengah, atau Rusia dapat langsung disaksikan dari pesantren di Bogor. Begitu juga sebaliknya, aktivitas kecil yang dilakukan di lingkungan lokal bisa memberi resonansi hingga ke tingkat internasional.
Beliau menyinggung tentang Model OIC—sebuah simulasi sidang OKI yang pernah dilaksanakan di pesantren ini. Melalui program tersebut, para santri diajak untuk merasakan langsung bagaimana berdiskusi, bernegosiasi, dan menyusun argumen layaknya diplomat. Bagi Ms. Astrid, pengalaman itu penting sebagai learning by doing. Diplomasi tidak hanya dipelajari dari buku, tetapi juga dari pengalaman nyata yang mengasah keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan.
Lebih jauh, Ms. Astrid mengaitkan pentingnya pemahaman sejarah dalam praktik diplomasi. Banyak konflik di dunia saat ini, khususnya di Timur Tengah, merupakan buah dari kebijakan diplomasi negara-negara besar pada masa lalu. Pembagian wilayah oleh Inggris dan Prancis, misalnya, telah meninggalkan luka panjang yang hingga kini melahirkan konflik berkepanjangan. Karena itu, pemuda perlu memiliki wawasan global dan worldview yang kuat, agar dapat melihat masalah tidak semata dari kacamata pihak lain, melainkan dengan perspektif yang adil dan berpihak pada kemanusiaan.
Diplomasi, kata beliau, pada hakikatnya adalah seni meyakinkan orang lain untuk percaya dan mendukung kita. Namun, kepercayaan itu hanya bisa diraih bila ada integritas, ilmu, dan karakter yang kokoh. Di sinilah pesantren memiliki peran strategis: membentuk generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan siap berkontribusi di panggung global.
Ms. Astrid menutup paparannya dengan ajakan penuh semangat: “Diplomasi adalah keterampilan hidup yang harus dimiliki setiap orang. Kita semua adalah diplomat, baik di ruang kelas, di pesantren, maupun di forum internasional. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk mulai berdiplomasi. Mulailah dari diri sendiri, dari lingkungan sekitar, dengan membawa nilai perdamaian, keadilan, dan solidaritas.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa para santri bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga jembatan peradaban yang siap membangun masa depan umat dengan ilmu, karakter, dan keberanian untuk terlibat dalam diplomasi dunia
Harapan untuk Masa Depan
Acara ini ditutup dengan semangat optimisme. Para santri diberi dorongan untuk tidak menunggu kesempatan datang, tetapi aktif menciptakan masa depan mereka sendiri. Lembaga pesantren berkomitmen mendukung langkah tersebut dengan memfasilitasi program-program seperti MoIC, forum ICYF, hingga lokakarya kepemimpinan.
Lebih dari sekadar panel diskusi, acara ini menjadi pengingat bahwa masa depan dunia Islam ada di tangan generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan berwawasan global. Sebuah pesan yang sederhana namun kuat: santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga motor penggerak perubahan dunia.
