Tahfizhdulido.com – Senin, 22 September 2025, halaman Pesantren Modern Daarul Uluum Lido dan Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido dipenuhi suasana khidmat. Seluruh jajaran civitas akademik dan guru berkumpul dalam rangka upacara pembukaan Penilaian Tengah Semester (PTS) ganjil tahun pelajaran 2025–2026. Acara dipandu dengan penuh wibawa oleh Ust. H. Abdul Azis, Lc., selaku pembawa acara. Pada kesempatan itu, panitia ujian membacakan peraturan-peraturan penting yang akan berlaku selama PTS berlangsung. Puncak acara ditandai dengan pengarahan, irsyadat wa taujihat, dari Khadim al-Ma’had, Ust. Kiyai Muhammad Yazid, S.Th.I, Lc., yang menekankan makna ujian bukan sekadar perhitungan nilai, tetapi bagian dari perjalanan panjang menuntut ilmu yang penuh barakah.
Dalam sambutannya, Kiyai Yazid mengingatkan kembali pesan Imam Syafi’i tentang enam syarat menuntut ilmu. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan sejati dalam ujian bukanlah semata-mata ditentukan oleh peringkat atau angka di atas kertas. Lebih dari itu, ujian adalah ladang untuk menumbuhkan ketulusan, usaha yang sungguh-sungguh, pelayanan (khidmah), serta dedikasi jangka panjang terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu, sebagaimana ditegaskan, memiliki kemuliaan ganda: ilmu syariah yang membimbing kehidupan rohani dan ilmu kawniah yang menuntun pada penguasaan realitas empiris.
Filosofi ini membuat ujian menjadi mulia bukan karena nilainya, tetapi karena kemuliaan pengetahuan yang sedang diuji. Nilai hanyalah salah satu indikator, sementara kesungguhan, ketekunan, dan doa restu guru menjadi faktor yang jauh lebih menentukan. Oleh karena itu, santri diajak untuk mengutamakan barakah dan manfaat daripada sekadar memperbanyak hafalan atau menguasai seluruh cakupan materi secara dangkal. Tidaklah realistis bagi seorang pelajar untuk menguasai semua mata pelajaran secara sempurna; yang lebih utama adalah mendalami dengan hati yang tulus, penuh rasa ingin tahu, dan istiqamah.
Khadim al-Ma’had juga menyampaikan bahwa setiap santri memiliki jalan perjuangannya masing-masing. Ada yang dianugerahi kecerdasan tajam, ada pula yang tumbuh dengan keinginan belajar yang besar, bahkan ada yang hanya mengandalkan kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan. Semuanya sah dan mulia jika dibarengi niat yang lurus. Imam Syafi’i menekankan bahwa menuntut ilmu tidak cukup dengan kecerdasan semata, melainkan membutuhkan keinginan yang kuat, kerja keras, ketulusan, pengabdian kepada guru, serta investasi waktu yang panjang. Inilah kunci agar ilmu benar-benar meresap ke dalam hati dan menjadi bekal pengabdian kepada umat.
Para santri pun diingatkan untuk selalu menghormati guru, rajin berkonsultasi, dan tidak malu bertanya ketika mengalami kesulitan. Catatan belajar yang rapi, pengulangan materi, dan kesabaran dalam menghadapi tantangan menjadi bentuk nyata dari kedisiplinan. Selain itu, khidmah kepada lembaga juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuntut ilmu. Pembersihan kelas, membantu rekan sejawat, hingga menjaga fasilitas pesantren dipandang sama mulianya dengan memperoleh nilai akademik tinggi. Sebab, keberhasilan tidak hanya diukur dari kecemerlangan akademik, tetapi juga dari sejauh mana seorang pelajar mampu melatih kepekaan sosial dan ketulusan hati.
Dalam suasana yang penuh semangat itu, civitas akademik meneguhkan komitmen untuk menyeimbangkan antara prestasi akademik dan pengabdian. Sekolah menegaskan bahwa mereka yang berprestasi dalam nilai patut diapresiasi, tetapi yang lebih penting adalah ketulusan berkhidmah dan konsistensi menapaki jalan ilmu. Dengan demikian, santri yang mungkin memiliki nilai biasa-biasa saja tetapi rajin membantu, peduli terhadap teman, dan menjaga martabat pesantren tetap mendapat penghargaan yang sama.
Upacara pembukaan PTS ini pada akhirnya tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi momentum menanamkan kesadaran kolektif bahwa ujian adalah sarana memperdalam ilmu, memperkuat kesabaran, dan melatih tanggung jawab. Para guru mendorong seluruh santri untuk menghadapi ujian dengan hati yang lapang, doa yang tulus, serta kesungguhan yang berkesinambungan. Harapannya, PTS kali ini menjadi pijakan penting bagi lahirnya generasi santri yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, berjiwa pengabdian, dan senantiasa diridhai Allah SWT.
