Masih dalam suasana Dauroh Ilmiah yang dihadiri oleh semua civitas pengajar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido dan Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido bersama Syekh ‘Alaa Musthofa Na’imah. Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido disambut baik dengan kedatangan Syekh ‘Alaa Musthofa Na’imah pada hari Minggu, 22 Juni 2025. Baik santri putra maupun putri turut membersamai dalam majelis ba’da shubuh.

Ulama Azhary ini memberikan beberapa nasihat penting kepada para santri putra maupun putri. Hal ini juga dihadiri oleh Pimpinan Pesantren Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I. Lc juga didampingi oleh Direktur Pesantren Tahfizh Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed. Dengan penuh khidmat dan khuyuk dalam majelis yang penuh berkah tersebut, Ust. Ahmad Muhafiz, Lc turut membantu dalam menerjemahkan kalimat per kalimat dari untain dakwah atau nasihat dari Syekh Azhar ini.

Pada nasihat yang beliau sampaikan, Syekh ‘Alaa Musthofa mengawali dengan penuh cinta dan rasa syukur karena dapat berjumpa dan bermuwajahah bersama para santri. Dialog yang terus mengalir dengan penuh hikmah tersebut, tidak terlepas dari perhatian Syekh ‘Alaa kepada semua santri untuk turut mendoakan agar menjadi sosok manusia yang bermanfaat baik di Dunia dan di Akhirat.

Dalam nasihatnya beliau memberikan 3 nasihat penting tentang ibadah yang paling utama menurut pandangan beliau. Selaras dengan penyampaian nasihat ditengah majelis tersebut, beliau senantiasa memberikan cara mengajar yang interaktif kepada para santri sehingga mudah untuk dipahami. Disela-sela dakwah beliau sempatkan untuk tetap bersenda gurau dengan para santri bahwa beliau juga mampu berbahasa Indonesia.

Nasihat Pertama, beliau mengatakan bahwa ibadah yang paling utama yang ingin beliau sampaikan adalah أفضل العبادات هي ترك المعاصي  “Meninggalkan Maksiat”. Nasihat tersebut beliau sampaikan bahwa meninggalkan maksiat adalah ibadah yang paling utama, karenanya ibadah ini adalah salah satu kunci untuk meraih kebahagiaan tidak hanya secara lahiriyah namun mampu masuk pada lorong batiniyah.

Nasihat Kedua, beliau menyampaikan bahwa نحفظ أوقاتنا للطاعة الله تعالى و إعراض عن المعاصي  “Menjaga Waktu untuk Tetap Taat kepada Allah dan menolak Kemaksiatan”. Dalam menjelaskan nasihat ini, Syekh ‘Alaa mengkaitkan dengan perjalanan para Tabi’in yang tidak ada henti-hentinya mereka memaksimalkan ketaatan mereka untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Karena dengan memanfaatkan waktu kita di masa muda, insyaAllah akan kita tuai mungkin pada usia 30, 40, atau bahkan 45 tahun. Buah dari ketaatan tersebut tentu bukan hanya dari sisi materil saja, melaikan melahirkan ketenangan dalam menghadapi dan menjalani kehidupan di dunia untuk bekal di Akhirat.

Terakhir, beliau menutup nasihat dalam majelis ilmu tersebut dengan menyampaikan “Jangan Pernah Memberikan Mutiara kepada Khinzir (Babi)”. Beliau sederhanakan bahwa mutiara adalah bentuk dari ketaatan kita kepada Allah, maka jangan pernah sekali-kali menundukkan ketaatan tersebut dengan kemaksiatan. لا تعطي الجوهرة إلى الخنزير ( لا نخضع قلوبنا و أرواحنا إلى المعاصي) .

Perlu diketahui bahwa kehadiran kita dari apa yang telah Allah amanahkan adalah bentuk kasih sayang kepada hambanya. Ditutup dengan khidmah dan penuh doa dan diakhiri dengan perjumpaan penuh cahaya. “kalau kita tak bisa jadi hujan yang mengairi maka jangan pernah jadi api yang membakar.”

Oleh: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag