Tahfizhdulido.com – One Santri One Book adalah program pengembangan literasi bagi para santri. Program ini bertujuan untuk mendorong penulis-penulis muda dan berbakat di kalangan santri untuk mengembangkan karya tulisnya.
One Santri One Book didukung oleh Pertamina Foundation melalui komunitas santri Suka Nulis yang senantiasa mendukung inisiatif-inisiatif pendidikan dan literasi. Proyek ini merupakan upaya konkret dalam menjembatani kesenjangan literasi di kalangan pesantren dan memungkinkan para santri untuk mengembangkan bakat menulis mereka.
Acara One Santri One Book menjadi kesempatan emas bagi para santri untuk mengembangkan potensi mereka dalam dunia literasi. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan bahwa lebih banyak penulis santri berbakat akan muncul dan membawa kontribusi berharga bagi masyarakat dan bangsa.
Shela Tuti Alawiah merupakan santri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido angkatan Valzelant 23 dan menjadi salah satu peserta yang mengikuti program literasi One Santri One Book. Buku berjudul Rumah Tak Bertuan memiliki jumlah 33 Bab yang diselesaikan penulisannya kurang lebih selama 2 bulan dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara diantaranya hasil karya adalah milik penulis sendiri bukan hasil karya orang lain, kategori fiksi atau non fiksi, dan minimal kata berjumlah 10.000. Berikut sinopsis buku Rumah Tak Bertuan:
Rumah Tak Bertuan
Tiga remaja dengan karakteristik dan latar belakang berbeda harus memasuki “dunia” yang tak diharapkan sebelumnya yaitu masuk dunia pesantren. Chairil Umar, remaja berusia tujuh belas tahun yang kehilangan arti “rumah” tepat di hari ulang tahunnya ke tujuh belas. Kaisar Bramantyo, remaja berwajah sangar yang tak pernah merasakan kehangatan seorang ayah. Dan Fatih Nugraha, sosok remaja religius yang harus mengorbankan mimpinya untuk menjadi pilot demi pendidikan sang adik.
Dunia pesantren yang tak mereka harapkan sebelumnya justru mengantarkan mereka pada sebuah titik terang, di sana mereka bertemu dengan Kiai Husain yang merupakan pimpinan pesantren tersebut. Di bawah bimbingan sang Kiai, ketiga remaja itu sadar bahwa seorang Kiai tak hanya mengajarkannya sebuah kitab kuning melainkan pelajaran kehidupan yang sangat berarti. Karena kasih sayang dan kesabaran sang Kiai, Kaisar menemukan kasih sayang seorang ayah yang sudah lama tak Ia rasakan. Karena pengorbanan sang Kiai, mimpi tinggi Fatih terwujud. Dan karena kebersamaan yang terjalin antara guru dan murid membuat Chairil menemukan kembali arti sebuah rumah sesungguhnya.
Rumah tak bertuan, bukanlah sebuah cerita horor. Melainkan menceritakan tentang kehidupan tiga remaja yang sempat kehilangan harapan, kehangatan dan arti sebuah rumah yang sesungguhnya.
Buku ini diagendakan launching pada hari Rabu, 22 Mei 2024 pukul 10.00 – 14.00 WIB di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara launching ini sekaligus merayakan atas keberhasilan program One Santri One Book.
Semoga buku Rumah Tak Bertuan Karya Shela Tuti Alawiah dapat bermanfaat khususnya untuk dirinya sendiri, dan umumnya untuk para pembaca.
Baca lengkap buku Rumah Tak Bertuan, klik di sini.
@dulido_bogor_official Mentoring Kegiatan One Santri One Book, Di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Bogor bersama Komunitas Santri Nulis #santri #pesantren #fyp #Dulido

