
Oleh: Adelia Permatasari (Bekasi)
Pada suatu hari, ada seorang kepala keluarga yang silaturahmi ke rumah teman kecilnya. Namanya pak Iwan. Namun, entah sejak kapan hidayah itu datang, ia melihat temannya sudah benar-benar berubah. Seperti ada aura ketenangan yang memancar dari dalam diri Agus, batinnya. Sedangkan ia? Hidupnya belum juga berubah. Masih terus jadi orang susah.
Sebenarnya niat Pak Iwan ke rumah Pak Agus –teman kecilnya– itu bukan hanya ingin silaturahmi, tapi juga ingin mencari solusi dari permasalahan hidup yang sedang ia jalani. Ia pun menceritakan kesulitan-kesulitan yang ia alami. Mulai dari ditipu orang tentang masalah jual beli tanah, hingga permintaan cerai istrinya karena tidak kuat menjalani hidup yang serba kekurangan. Hidupnya benar-benar berantakan.
Singkat cerita, Pak Agus bertanya, “Apakah kamu sholat, Wan?”
“Aku melakukannya, meski tidak lima waktu dalam sehari.” Jawabnya sedikit malu
“Apakah ketika melakukan sholat, kamu tepat waktu dan dalam keadaan khusyuk?”
“Aku tidak tau, Gus. Aku selalu memikirkan bagaimana cara agar mendapatkan uang yang banyak, agar kehidupanku kembali seperti dulu lagi” jelas Pak Iwan
Pak Agus menghela nafas, tersenyum, lalu memberikan sebuah perumpamaan.
“Wan, jika kau sedang butuh uang. Kemudian ada orang yang ingin memberi pinjaman kepadamu. Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku pasti akan sangat berterimaksih pada orang baik itu.”
“Lalu jika ia memintamu untuk datang ke rumahnya jam 10 tepat. Apa kau bersedia?”
“Tentu. Bahkan aku akan bersiap-siap lebih awal untuk datang.”
“Mungkinkah kamu akan telat datang ke rumah orang itu?”
“Tidak mungkin, aku akan berusaha untuk tepat waktu karena hanya dia yg mau menolongku. Tak mungkin aku sia-siakan.”
“Jika kamu telat atau bahkan tidak datang, apa yang akan terjadi?”
“Aku pasti akan merasa bersalah kepadanya. Aku yang butuh, tapi aku sendiri yang tidak datang.”
“Nah, mengapa untuk urusan dunia kau begitu antusias? Ketahuilah. Allah sudah menunggu satu hari lima waktu untuk mengulurkan bantuanNya padamu. Ia bukan hanya meminjamimu, bahkan Ia juga menjanjikanmu sebuah kemenangan. Tapi sayangnya seringkali kau lalai, datang telat, dan mengerjakannya semaumu. Lalu kau berharap uluran tanganNya untuk mengabulkan semua inginmu? Apa kau sedang bergurau? Jika kau ingin memperbaiki hidupmu, maka mulailah perbaiki sholatmu. Minta ampun lah pada gusti Allah. In Syaa Allah ia selalu berkenan untuk mengampuni dan memudahkan hamba-hambaNya.”
Tak terasa air mata membasahi kedua pipi Pak Iwan. Hatinya yang tandus selama bertahun-tahun seperti baru saja di siram oleh lautan air. Menyejukkan, sekaligus menyadarkan. Ia merasa sudah terlalu lama meninggalkan Allah, sumber segala pertolongan.
“Apakah Allah akan menerimaku, Gus? Aku merasa sangat malu untuk kembali memelas belas kasihanNya” ungkap Pak Iwan sambil menunduk
“Aku pernah membaca sebuah tulisan. Kira-kira seperti ini, ‘jika seorang hamba mau mendekat kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekat padanya sehasta. Sekalipun tumpukan dosanya menjulang ke langit, Aku akan tetap memaafkannya jika Ia bertaubat kepadaKu.’ Percayalah, Wan. Allah Maha Baik.” Ucap Pak Agus meyakinkan.
Akhirnya, pertemuan kali itu ditutup oleh pelukan hangat seorang sahabat yang akhirnya menemukan kembali jiwanya yg telah lama hilang.
“Baiklah. Aku pulang dulu, Gus. Nasehatmu sungguh sangat berarti untukku. Mungkin ini terakhir kali aku bertemu denganmu. Terimakasih, Gus.” Kata Pak Iwan berpamitan.
Pak Agus merasa ada yang ganjil dengan kata-kata yg disampaikan Pak Iwan ketika berpamitan. Sudahlah, semoga Allah menjaganya. Batin Pak Agus.
Ternyata benar. Allah sudah sangat merindukannya. Jiwa yang baru saja berniat untuk kembali kepadaNya, ternyata kini di jemput oleh ribuan malaikatNya. Disambut dengan keridho-an Ilahi Rabbi. Air mata taubat yang baru saja keluar karena penyesalan atas dosanya, mampu menggetarkan ArsyNya. Membuat penasaran para penduduk langit. Allah mengambilnya ketika perjalanan pulang. Ia benar-benar pulang, ketempat yang lebih indah.